KEDUA patih sedari tadi mengawasi gerak-gerik Arjuna.
Sucitra dan Surata bergegas mendekat begitu mendapati Arjuna tampak memaksa Subadra.
Mereka berusaha menghalangi Arjuna.
Tentu saja, perbuatan kedua patih membuat Arjuna sewot.
"Kenapa kalian menghalangiku? Apa kalian lupa siapa aku, beraninya kalian menghalangi?," kata Arjuna, dengan nada bicara yang meluap-luap.
Lalu, Raden Sucitra memberi penjelasan.
"Tidak baik di tempat yang banyak orang seperti ini, Raden Arjuna yang terhormat memaksa istri seperti itu, nanti akan menjatuhkan martabat paduka," jelas Sucitra.
Mendengar itu Arjuna merasa jengkel.
Ia tak mau tahu.
Kedua patihnya lalu dihajar habis. Ia kemudian membawa kabur Subadra.
Namun hanya beberapa saat kemudian, Arjuna datang kembali.
Kali ini ia bersama Kresna dan Werkudara, bukan Punakawan.
Sucitra dan Surata yang kebingungan lalu bercerita.
"Bukannya paduka baru saja pergi dengan istri?," kata Sucitra.
Mendengar itu, Kresna tertawa.
"Hahaha, sepertinya ada kembaran Arjuna dan dia membawa kabur istrimu, Arjuna," ujarnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, kakak prabu?," tanya Arjuna.
Sri Kresna masih mencoba menggoda Arjuna.
"Lha kan itu istrimu, kenapa kamu bertanya padaku, apa tidak salah?"
Ajuna mendekati Kresna dan berkata lirih.
"Aja guyon, iki tenanan. Adike ilang mung guyu wae," katany, pelan.
Namun, Kresna kembali tertawa.
"Hahaha. Iya-iya jangan marah," jawabnya.
"Begini saja, kamu pergilah ke utara. Minta tolong pada seorang pandita yang nanti kamu temui di tengah perjalananmu. Bila beruntung, kamu akan menemukan istrimu kembali," tuturnya.
Mendengar itu arjuna memanggil Punakawan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong diajak untuk menemaninya mencari sang istri. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani