Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Pandawa Boyong (1) - Setelah Mandi Darah

Ki Damar • Selasa, 18 Juni 2024 | 02:00 WIB

 

Ilustrasi lakon wayang Pandawa Boyong (RADAR MADIUN)
Ilustrasi lakon wayang Pandawa Boyong (RADAR MADIUN)

PERANG Baratayudha telah berakhir. Pasukan Pandawa tampak bersorak penuh suka cita usai menang melawan pasukan Kurawa.

Namun, sorak sorai ini juga diliputi duka karena para Kurawa merupakan saudara sedarah Pandawa.

Kemenangan dalam perang ini didapat Pandawa usai mandi darah saudara sendiri.

Di Pesanggrahan Gupalaya, terlihat Puntadewa bersimpuh di hadapan kakeknya, Matsapati.

"Eyang prabu, apakah Pandawa layak menerima kemenangan ini?" tanya Puntadewa.

Prabu Matsapati menatap mata cucunya yang menyiratkan kepedihan.

"Cucuku Puntadewa, apa yang membuat engkau bersedih di hari kemenangan ini? Bukankah seharusnya engkau bahagia?"

"Bahagia bagaimana? Kemenangan ini kami dapatkan setelah mengorbankan saudara kami. Dosa apa yang Pandawa terima atas peperangan ini?" kata Puntadewa.

Sri Kresna yang sedari tadi melihat Puntadewa bersimpuh berusaha membesarkan hati sang raja.

"Yayi prabu, jangan memikirkan dosa atas peperangan. Tapi ingatlah, bahwa hanya dengan cara ini kita bisa menyelamatkan rakyatmu yang sekian lama sengsara atas mereka."

Komentar Kresna membuat Puntadewa langsung berbalik badan.

Ia lalu menghampiri Kresna.

"Lalu setelah ini, apa yang akan kita lakukan? Saya sudah mendengar pesan terakhir kakang Prabu Duryudana, bahwa setelah ini cobaan Pandawa akan lebih berat," tanya Puntadewa.

"Karena kita akan menanggung para keluarga korban perang, balas dendam, dan lain sebagainya," sambung sang raja.

Sri kresna lantas menepuk pundak sang adik.

Ia percaya, Puntadewa sangat mampu membawa kebaikan untuk Pandawa seusai Perang Baratayudha.

"Yayi prabu, tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan. Setelah sekian lama Pandawa menempuh jalan untuk melakukan negosiasi, jalannya adalah perang," pesannya.

"Lebih baik mengorbankan hal yang buruk demi kebaikan yang akan datang, karena kita berada dalam jalan kebenaran," jelas Kresna. (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Puntadewa #astina #cerpen #Pandawa #Baratayudha #Lakon #wayang