SIAPA tak kenal Arjuna. Tokoh wayang ini begitu populer. Baik versi Surakarta maupun versi Jogja.
Ia juga dikenal dengan berbagai nama seperti Permadi, Janaka, dan Parta.
Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara Pandawa, Arjuna memiliki peran sebagai panengah atau penengah, mencerminkan posisinya yang berada di tengah-tengah saudara-saudaranya.
Keahliannya dalam memanah dan kepemilikan senjata sakti menjadikannya tokoh kunci dalam perjuangan melawan Kurawa.
Dalam cerita wayang Jawa, Arjuna digambarkan sebagai ksatria yang gemar berkelana, mencari ilmu, dan bertapa.
Ia memiliki watak yang cerdik, sopan, pandai, teliti, pendiam, dan bijaksana, serta dikenal akan keberaniannya dalam melindungi yang lemah.
Keahlian bertapa Arjuna sering kali mengantarkannya untuk mendapatkan wahyu dan senjata sakti dari para dewa, yang kemudian digunakan dalam berbagai pertempuran epik melawan Kurawa.
Sebagai pemimpin Kadipaten Madukara di wilayah Amarta, Arjuna tidak hanya dikenal sebagai pejuang yang tangguh tapi juga sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.
Julukan-julukan lain yang diberikan kepadanya, seperti Dananjaya dan Kumbalijali, mencerminkan keberagaman peran serta kejayaan yang ia raih sepanjang hidupnya.
Salah satu momen penting dalam kehidupan Arjuna adalah saat ia melakukan laku tapa di Puncak Indrakila.
Di sini, ia dikenal dengan nama Begawan Mintaraga, sebuah nama yang menandakan fase kehidupannya yang penuh renungan dan pencarian spiritual.
Tapa yang dilakukannya tidak hanya untuk mencari senjata sakti tapi juga untuk memperkuat jiwa dan rohaninya, mempersiapkannya menghadapi tantangan yang lebih besar dalam hidup.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani