PANDU adalah putra Prabu Kresnadwipayana atau Bagawan Abiyasa, raja Astina, dengan permaisuri keduanya, Dewi Ambiki yang juga dikenal sebagai Ambalika.
Ambiki merupakan putri Prabu Darmahambara dari Kerajaan Kasi.
Pandu memiliki dua saudara seayah, yakni Drestarasta dan Yamawidura.
Pandu naik tahta kerajaan Astina menggantikan ayahnya, yang memilih kembali ke pertapaan Retawu untuk hidup sebagai seorang brahmana.
Tokoh wayang inu memiliki dua orang istri.
Istri pertamanya Dewi Kunti (atau Dewi Prita), putri Prabu Basukunti dari Mandura.
Kunti melahirkan tiga putra, yakni Puntadewa, Bima (alias Werkudara), dan Arjuna.
Istri kedua adalah Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dari Mandaraka, yang melahirkan dua putra kembar, yakni Nakula dan Sadewa (atau Pinten dan Tansen).
Pandu dikenal sebagai tokoh yang banyak berjasa kepada Dewata dan Suralaya.
Ia dianugerahi pusaka Hrudadali, Minyak Tala, serta gelar Dewanata.
Namun, Pandu melakukan dua pelanggaran besar terhadap ketentuan Dewata.
Pertama, ia membangun Taman Kadilengleng di istana Astina, yang pola desainnya meniru Taman Tejamaya di Suralaya tanpa izin dari Sanghyang Manikmaya.
Kedua, karena menuruti keinginan Dewi Madrim, ia nekat meminjam lembu Andini, kendaraan Batara Guru.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani