Jawa Pos Radar Madiun – Pat-jiu Kai-ong, sosok yang dikenal sebagai Raja Pengemis, selama ini merasa tak terkalahkan.
Namun, ketenangan itu sirna saat seseorang muncul dengan tujuan menghancurkannya.
The Kwat Lin, Ratu Pulau Es, datang dengan kekuatan luar biasa, membawa dendam yang telah terpendam selama bertahun-tahun.
The Kwat Lin vs Pat-jiu Kai-ong
Ujung lengan baju The Kwat Lin yang tajam beradu dengan tongkat sakti Pat-jiu Kai-ong.
Serangan demi serangan saling bertukar.
Kebencian yang membara memberi tenaga ekstra bagi sang Ratu Pulau Es.
Ia bukan hanya ingin menang dari pertarungan ini.
Dengan dendam membara, ia bertekad membuat Raja Pengemis itu merasakan penderitaan sebelum kematiannya.
Malam Penuh Teror di Kediaman Raja Pengemis
Yang terjadi setelahnya bukanlah sekadar kemenangan.
Raja Pengemis Berlengan Delapan ini mengalami pembalasan lahir dan batin yang hebat.
Kwat Lin tidak langsung menghabisi lawannya.
Sebaliknya, ia memberikan hukuman perlahan.
Membuat Pat-jiu Kai-ong merasakan akibat dari perbuatannya di masa lalu.
Dia pun memberi kesempatan Han Bu Ong, putranya, yang ternyata memiliki hubungan darah dengan Pat-jiu Kai-ong untuk mengeksekusi.
Mati Segan Hidup Enggan Raja Pengemis Berlengan Delapan
The Kwat Lin meninggalkan Pat-jiu Kai-ong dalam keadaan tak berdaya di istananya yang telah berubah menjadi tempat sunyi tanpa kehidupan.
Pat-jiu Kai-ong yang terluka hebat dan menjadi cacat itu tak dapat berbuat banyak.
Mati segan hidup enggan.
Sebagai puncak balas dendam, ia meninggalkan Pat-jiu Kai-ong yang sekarat di antara mayat-mayat yang membusuk selama tiga hari tiga malam.
Setelah itu, markas perkumpulan pengemis itu dibakar habis!.
Swi Liang dan Swi Nio yang kehilangan ayah lalu mengikuti The Kwat Lin untuk berguru kepada Ratu Pulau Es tersebut. (fin)