Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Ontran-ontran Madigondo: Terkenang Berita Oknum Pesilat Didor Polisi

Deni Kurniawan • Selasa, 22 April 2025 | 20:25 WIB
Ilustrasi cerita silat bentrok dua kelompok perguruan pencak di Madigondo.
Ilustrasi cerita silat bentrok dua kelompok perguruan pencak di Madigondo.

Cerita Silat Original Deni Kurniawan*

LANGIT sore itu amat lembut, selembut teh tubruk dengan sedikit susu yang diseduh Prasojo. Angin mengusap pelan asap yang mengepul dari minuman panasnya itu.

Koran pagi belum dibacanya. Maklum, mantan wartawan ini sekarang menikmati masa pensiun dengan berkebun. Dia sibuk menanam sawi pagi tadi. ''Bentrok silat lagi,'' gumam Prasojo. ''Sore mencekam di Madigondo, Magetan,'' dia membaca judul berita. ''Dua kelompok perguruan pencak silat terlibat bentrok,'' sub judul tak ketinggalan dibaca.

Prasojo lantas menekuri headline berita tersebut.

Bersamaan dengan itu, pohon turi yang berbunga pucat di halaman melambai-lambai diterpa angin.

Seekor ayam jago bertengger di pagar bambu, seakan mendengar berita yang dibaca prasojo sebagai cerita silat.

Teras rumah Prasojo yany berdinding kayu jati juga ikut menyimak.

Ibarat menemani seorang pria sepuh berkacamata, mengenakan sarung lurik dan kaus oblong putih yang mulai kusam.

Selain menggarap sawah belakang rumah, mantan wartawan koran harian di Mdadiun itu kini tetap menulis. Tapi, sekadar untuk kepuasan batin.

''Berita ini akan lebih bagus kalau wartawannya berani menelusuri akar permasalahan. Biar terungkap jelas alasan bentrok,'' gumam Prasojo seusai membaca.

Radio kecil di sudut meja kayu di putar. Beberapa stasiun terlewati.

Kemudian berhenti di stasiun berita menyiarkan kabar bentrok antar dua kelompok perguruan silat.

Suara radio kelewat parau. Prasojo harua mendekatoan telinga agar terdengar jelas.

''Sejumlah remaja ditahan polisi. Aksi saling serang dipicu saling sindir di media sosial,'' kata si penyiar radio.

Prasojo menghela napas panjang.

''Kenapa harus begitu?'' ujarnya lirih, sambil menggoyangkan sendok di gelas teh.

Dia mengenal silat bukan sebagai jalan untuk bentrok, tapi untuk membangun batin.

Di desa tempat tinggalnya, para pesilat dari berbagai perguruan masih sering kumpul bareng.

Kadang memang saling ejek, tapi hanya sebatas gurauan. Tak pernah ada dendam.

''Kenapa silat jadi begini?” pikirnya lagi.

Prasojo mengingat satu per satu anak-anak muda desa yang rutin datang ke lapangan tiap malam Minggu.

Semua damai. Saling hormat. Bahkan kadang satu keluarga, biasanya anak laki-laki dengan bapaknya, beda perguruan. Tapi itu tidak jadi masalah.

Beberapa saat kemudian, dada Prasojo terasa sesak.

Itu bersamaan sebuah wawancara singkat seorang pengurus perguruan dari luar daerah di radio.

''Kami sudah imbau damai. Tapi ini oknum. Kami serahkan pada proses hukum.”

“Oknum, lagi-lagi oknum,” kata Prasojo. Matanya menerawang ke arah sawah.

Dia berkeyakinan, kalau sebuah perguruan membiarkan anggotanya membuat onar tanpa sanksi tegas, itu bukan lagi sekadar kesalahan murid. Tapi, sebuah pembiaran.

Lelaki tua itu berdiri. Dia berjalan pelan ke rak kecil di dalam rumah.

Ditariknya map lusuh berisi potongan kliping berita puluhan tahun lalu. Ia buka pelan. Salah satu judul berbunyi: Oknum Pesilat Didor Polisi.

Dua yang menulis berita itu, puluhan tahun silam. Dia masih muda.

Kini, dia hanya bisa menyaksikan dari teras rumah. Menyimak berita sambil menyesap teh susu.

Prasojo duduk lagi. Dia menulis sesuatu di buku kecilnya. Tangannya gemetar, tapi tulisannya tetap tajam.

'Silat bukan jalan kekerasan. Kalau ada yang menyimpang, perguruan tidak boleh diam. Jangan sampai silat cuma jadi seragam, bukan ajaran.'

Dia tutup buku itu. Ayam jago turun dari pagar. Senja mulai redup. (*)

*Penulis bekerja di Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#pencak #perguruan #magetan #bentrok #Cerita Silat #Madigondo