Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Jalan Pulang Jalur Sarangan, Sebuah Cerita Misteri Terilhami Kisah Nyata

Deni Kurniawan • Sabtu, 20 September 2025 | 04:20 WIB
Suasana malam di jalur wisata menuju Sarangan di lereng Gunung Lawu.
Suasana malam di jalur wisata menuju Sarangan di lereng Gunung Lawu.

Cerpen misteri Jalan Pulang Jalur Sarangan oleh Deni Kurniawan*

MOBIL kami menembus pekatnya malam.

Lampu jalan yang remang-remang sesekali menerangi wajahku dan wajah Bani.

Rencana kami untuk tiba di Sarangan sebelum petang gagal total.

Jarak tempuh yang lebih lama dari perkiraan membuat kami terjebak dalam rute yang terasa tak berujung.

Di balik jendela mobil, siluet pepohonan dan jurang mulai terlihat.

Dinginnya udara menandakan kami semakin mendekati kawasan Gunung Lawu.

​"Sepertinya kita nyasar, Ban! Dari tadi jalannya muter-muter terus," ucapku memecah keheningan.

Pertanyaan itu keluar dari mulutku sesaat setelah kami berhenti sejenak mengamati papan penunjuk arah.

​Namun, Bani hanya menanggapi dengan gumaman.

Matanya tampak fokus ke depan, tapi entah kenapa aku merasa ada yang lain.

Bahunya tegang, dan tangannya mencengkeram erat setir mobil.

​"Ban, kenapa?" tanyaku lagi.

​Dia tidak menjawab. Bibirnya hanya berucap, "Jangan lihat ke spion!".

​Seketika bulu kudukku meremang.

Naluri ingin tahu-tahu membuatku mengintip spion tengah. Aku langsung menyesal.

Di sana, di antara kegelapan di kursi belakang, aku melihat pantulan sosok.

Matanya menyala terang. Bibirnya tertarik dalam senyum yang menyeramkan.

Bukan, itu bukan pantulan, itu adalah sosok yang nyata. Aku menoleh ke belakang, tetapi kursi belakang kosong.

​"Ban," suaraku bergetar.

​"Jangan menoleh, pokoknya jangan menoleh ke belakang," desis Bani dengan suara tertahan.

​Aku memejamkan mata dan mencoba mengatur napas.

Jantungku berdebar tak karuan. Tiba-tiba, mobil terasa oleng.

Bani membanting setir ke kanan, lalu ke kiri. Ban mobil berdecit keras.

​"Remnya blong!" teriak Bani.

​Napas kami tercekat. Kami pasrah. Mobil melaju tak terkendali di jalanan yang menanjak.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, muncul sebuah mobil dengan lampu yang sangat terang.

Silau itu membuatku tak bisa melihat apa-apa. Bani membanting setir ke kiri untuk menghindari tabrakan. Mobil kami menabrak pembatas jalan.

​Saat kesadaran kembali, aku merasakan hawa dingin yang menusuk. Kepalaku pusing. Aku melihat sekeliling.

Kami tidak berada di dalam mobil, melainkan di sebuah jurang. Mobil kami ringsek, tapi ajaibnya, kami tidak terluka sedikit pun.

​Bani hanya diam. Matanya kosong menatap ke depan. Aku melihat ada tetesan air mata di pipinya.

Perlahan, dia menunjuk ke arah tebing. Di sana, aku melihat diriku sendiri dan Bani.

​Perjalanan ini bukanlah perjalanan wisata. Namun, sebuah perjalanan pulang.

Kami akan terus berjalan dalam keheningan, mengulangi malam yang sama, selamanya, di antara jurang dan kabut dingin di sekitar Sarangan. (*)

*Penulis cerpen Jalan Pulang Jalur Sarangan redaktur Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#cerpen #jawa pos #Deni Kurniawan #cerita misteri #radar madiun #sarangan #kisah nyata #gunung lawu