Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Sambil berlari penuh duka, Petruk menyaksikan tentara Maespati bergelimpangan tanpa sisa.
Ia bergegas menemui Sinuwun Prabu Arjuna Sasra untuk melapor. Namun di tengah jalan, ia berpapasan dengan ayahnya, Semar.
“Eh, kenapa kalian berlari-lari di tengah panas begini? Tidak takut kepanasan? Hati-hati, ini hutan, bukan istana. Banyak batu dan ranting tajam,” ujar Semar menasihati.
“Pak, ini bukan waktunya ceramah! Di sana banyak yang tewas!” kata Bagong dengan napas tersengal.
“Sudah selayaknya manusia yang bernyawa akan mati, karena tak ada yang kekal di dunia,” jawab Semar tenang.
“Pak, kalau Bapak tahu apa yang terjadi di pesanggrahan, pasti Bapak tak akan bisa berkata setenang itu!” Petruk berseru marah.
Semar menghela napas. “Baiklah, coba katakan, biar Bapakmu ini tahu kebenarannya.”
“Pak, di pesanggrahan semua prajurit dan raja terluka, bahkan tewas. Hanya Patih Surata yang masih hidup tapi sekarat. Ia bilang, semua perbuatan Prabu Dasamuka, Raja Alengka.”
“Oh, dasar raja angkara murka. Apakah Ndara Sumantri juga tewas, Petruk?” tanya Semar terkejut.
“Dari ucapan Raden Surata tadi, semuanya tewas, Pak. Ia satu-satunya saksi hidup. Artinya... Ndara Sumantri pun gugur.”
Baca Juga: Ratusan Sekolah di Ponorogo Dapat Smart TV dari Presiden Prabowo
“Jagad dewa batara, Ndara Sumantri, orang baik seperti beliau mengapa harus berpulang kini, Gusti?” seru Semar lirih.
“Ayo, Tole! Cepat sampaikan kabar ini pada Sinuwun Prabu Arjuna Sasrabahu!”
“Kamu ini, Pak,” celetuk Bagong, “kalau tadi tidak nyegat kami, mungkin sekarang sudah bertemu Sinuwun!”
“Sudahlah, ayo segera ke Samudra Hindi!” seru Petruk. Mereka bertiga pun berlari sekuat tenaga, membawa kabar duka dari pesanggrahan Maespati.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani