Lakon Wayang Supala Gugat oleh Ki Damar*
JAYATSENA, putra Prabu Jarasanda, masih tenggelam dalam kegelisahan setelah kematian ayahnya.
Ketika Prabu Kresna mengutarakan dukungan agar ia naik takhta menggantikan ayahnya, Jayatsena justru menjawab dengan hati yang berat.
“Terima kasih, Sinuwun. Tetapi aku belum siap,” ujar Jayatsena lirih.
“Menjadi raja bukan sekadar duduk di takhta. Rakyat membutuhkan panutan. Jika aku salah melangkah, merekalah yang menanggung akibatnya. Aku mencintai rakyatku, dan aku takut bila kebijakanku justru membuat mereka sengsara.”
Kresna tersenyum lembut, seolah melihat cahaya baru dalam diri pemuda itu.
“Aku kagum padamu, Jayatsena. Engkau tidak silau tahta. Engkau memahami diri sendiri, dan itu jarang dimiliki pemuda zaman ini. Banyak yang mengejar jabatan hanya demi kekuasaan, lupa bahwa menjadi raja berarti memikul derita rakyat.”
Jayatsena menggeleng pelan. “Bukan berarti aku tidak ingin menjadi raja, Sinuwun. Tapi jabatan itu begitu berat,".
"Raja harus menanggung luka rakyat, mencintai mereka tanpa pamrih, dan memastikan tidak ada kezhaliman," lanjutnya.
"Mereka yang mengejar takhta tanpa memahami itu, hanya berburu kehormatan, tanpa memikirkan tujuan suci seorang raja,” masih kata Jayatsena.
Kresna menepuk bahunya dengan penuh kebijaksanaan.
“Andai setiap raja memiliki hati sepertimu, Jayatsena, dunia ini akan tenteram. Tapi dunia tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan,'' tutur Kresna.
"Ia berputar mengikuti langkah orang-orang yang mau bergerak—benar atau salah, mereka sering tak sempat merenung,” lanjutnya.
Dengan itu, Kresna memeluk Jayatsena, lalu berbalik meninggalkan negeri Magadha, membawa secercah harapan bahwa kelak negeri itu dipimpin seseorang berhati bening. (*)
*Penulis lakon wayang Supala Gugat alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan