Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Kebangkitan Jiwa Satria Raden Utara 4: Sang Kusir di Medan Perang

Ki Damar • Kamis, 16 Juli 2026 | 20:23 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Raden Utara
Ilustrasi tokoh wayang Raden Utara

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"Lalu?"

Wrehatnala menjawab dengan tenang.

"Seorang kesatria adalah orang yang tetap melangkah maju meski ketakutan mengguncang dadanya."

Utara terdiam.

Wrehatnala kembali melanjutkan.

"Orang yang melarikan diri demi menyelamatkan dirinya mungkin akan hidup lebih lama. Namun, namanya akan mati lebih dahulu daripada tubuhnya."

Kalimat itu menghunjam ke dalam hati Utara.

Dengan wajah tertunduk, ia berkata lirih,

"Bagaimana mungkin aku menghadapi Bisma, Durna, dan Basukarna seorang diri?"

Wrehatnala tersenyum.

"Siapa yang berkata engkau akan menghadapi mereka seorang diri?"

Utara mengangkat kepalanya. "Maksudmu?"

Wrehatnala menatap Raden Utara dengan mantap. "Aku akan menjadi kusirmu."

Baca Juga: Festival Rontek Pacitan Digelar 17–19 Juli, Polisi Terapkan Rekayasa Lalu Lintas

Ucapan itu terdengar tegas, meski ia masih mengenakan sampur sebagai guru tari.

Utara terperanjat.

"Engkau?"

"Ya."

Jawaban Wrehatnala begitu mantap.

"Engkau bahkan bukan seorang prajurit."

Wrehatnala hanya tersenyum tipis.

"Percayalah. Selama tangan ini masih memegang tali kekang, keretamu tidak akan kehilangan arah."

Suasana kembali sunyi sejenak.

Utara memandang wajah adiknya yang penuh harapan. Setelah itu, pandangannya beralih kepada Wrehatnala yang tetap berdiri tenang tanpa sedikit pun menunjukkan keraguan.

Perlahan-lahan, rasa gentar yang memenuhi dadanya mulai berubah menjadi keberanian.

Akhirnya, ia mengangguk mantap.

"Baiklah."

Dewi Utari tersenyum lega.

Dengan suara lantang, Utara kemudian memberi perintah.

"Siapkan Garuda Yaksa! Hari ini kereta pusaka Wirata akan kembali mengaum di medan perang."

Wrehatnala membungkukkan badan penuh hormat.

"Dawuh, Raden."

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
raden utara wrehatnala cerpen wayang