Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Garuda Yeksa 4: Kepanikan Raden Utara

Ki Damar • Jumat, 17 Juli 2026 | 20:08 WIB
Ilustrasi kereta kencana Garuda Yeksa dalam cerita wayang. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi kereta kencana Garuda Yeksa dalam cerita wayang. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Panah-panah mulai menghantam badan kereta.

Tak... tak... tak...!

Benturan demi benturan mengguncang Garuda Yaksa.

Raden Utara tak sanggup lagi menahan rasa takut yang menguasai dirinya.

"Aku tidak mau mati!"

Tanpa berpikir panjang, ia melompat turun dari Garuda Yaksa, lalu berlari secepat mungkin menuju hutan.

"Wahai Raden! Tunggu!"

Wrehatnala segera menghentikan kereta, kemudian mengejar Raden Utara yang terus berlari tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Sambil berlari, Utara berteriak dengan suara bergetar.

"Biarkan aku! Aku bukan tandingan mereka! Aku tidak ingin mati sia-sia!"

Wrehatnala terus mengejarnya.

Baca Juga: Profil Slavko Vincic, Wasit Final Piala Dunia 2026 Argentina vs Spanyol

"Raden! Berhentilah!"

Namun, Utara justru mempercepat langkahnya hingga memasuki rimbunnya pepohonan.

Dari kejauhan, Patih Sengkuni menyaksikan peristiwa itu. Senyum sinisnya berubah menjadi tawa yang menggelegar.

"Hahaha! Lihatlah putra Prabu Durgandana!"

Dursasana ikut tertawa sambil menepuk-nepuk pahanya.

"Itukah kesatria yang hendak melawan Astina? Baru melihat hujan panah saja sudah lari tunggang-langgang!"

Sengkuni kembali berseru lantang agar seluruh pasukan dapat mendengarnya.

"Lihat baik-baik! Negeri Wirata kini dipimpin oleh seorang pengecut!"

Gelak tawa pasukan Kurawa pun menggema di seluruh medan laga. Dursasana bahkan sampai memegangi perutnya karena tak mampu menahan tawanya.

Setelah itu, ia melangkah mendekati pamannya, Patih Sengkuni, sambil menunjuk ke arah hutan tempat Raden Utara melarikan diri.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
raden utara garuda yeksa cerpen wayang