Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Kereta Garuda Yaksa meninggalkan jalan utama dan memasuki hutan yang kian lebat. Wrehatnala duduk tenang, sedangkan Raden Utara menjadi kusir sesuai kesepakatan mereka.
Tak lama kemudian, kereta berhenti di bawah sebuah pohon randu alas yang menjulang tinggi. Pohon itu tampak tua dan angker. Dahannya menjulur ke segala arah, seolah menyimpan sebuah rahasia besar.
Raden Utara mendongakkan kepala. Seketika, wajahnya memucat.
"Wrehatnala... lihat itu!"
Di salah satu dahan tampak sesosok benda putih menggantung, menyerupai pocong.
"Itu... pocong!"
Tubuh Utara bergidik.
"Apakah engkau sengaja membawaku ke tempat seperti ini?"
Baca Juga: Bursa Transfer MotoGP: Fabio Quartararo Pindah ke Honda HRC Musim Depan
Wrehatnala hanya tersenyum tipis.
"Bukan, Gusti. Itu bukan pocong."
"Lalu apa?"
"Itu hanyalah bungkus untuk menyembunyikan sesuatu yang sangat berharga. Sengaja dibuat menyerupai pocong agar tidak ada manusia yang berani mendekat."
Wrehatnala lalu menunjuk ke arah bungkusan itu.
"Gusti, sekarang panjatlah pohon itu dan ambillah."
Utara mengernyit.
"Aku yang harus memanjat?"
"Benar."
Utara tersenyum masam.
"Baru beberapa saat lalu aku menjadi senopati. Sekarang justru diperintah oleh senopatiku sendiri."
Wrehatnala mengangguk tenang.
"Hari ini Gusti menjadi kusir, sedangkan hamba menjadi senopati. Seorang kusir harus menjalankan perintah senopatinya."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani