Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Air mata menggenang di pelupuk mata Durna. Ia menundukkan kepala dalam-dalam.
"Ampunilah aku, Panembahan. Aku hampir menghancurkan perjuangan muridku sendiri."
Bisma mengangguk pelan.
"Hari ini kita bukan sedang melindungi seorang cucu atau murid. Kita sedang menjaga tegaknya janji dan keadilan."
Setelah berkata demikian, Bisma memberi perintah kepada sais keretanya.
"Mundurkan kereta."
Durna pun melakukan hal yang sama.
Dua kereta tua itu perlahan bergeser, memberi jalan bagi Garuda Yaksa. Dari kejauhan, Wrehatnala membalas penghormatan itu dengan menundukkan kepala penuh takzim.
Pemandangan tersebut membuat Raja Awangga Narapati Basukarna mengepalkan tangan.
Baca Juga: 74 Tahun Jadi Misteri, Bangkai Pesawat Pan Am Ini Akhirnya Ditemukan di Dasar Atlantik
Wajahnya memerah menahan amarah.
"Apa maksud semua ini?"
geramnya.
"Dua mahaguru Astina justru mundur di hadapan seorang wandu?"
Tatapannya beralih kepada Bisma dan Durna dengan sorot penuh kekecewaan.
"Apakah karena usia kalian telah renta sehingga gentar menghadapi seorang guru tari? Atau memang ada sesuatu yang sedang kalian sembunyikan dariku?"
Tak seorang pun menjawab.
Bisma dan Durna tetap terdiam.
Justru sikap diam itulah yang semakin membakar hati Basukarna.
Baca Juga: Reuni Mantan Duo Borneo, Berguinho Semringah Mariano Peralta Gabung Persib Bandung
Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Wrehatnala. Tatapannya dipenuhi rasa penasaran yang bercampur amarah.
"Siapa sebenarnya engkau?"
gumamnya.
"Seorang wandu tidak mungkin memiliki keberanian, ketenangan, dan tata krama perang seperti itu. Tidak mungkin pula Bisma dan Durna memberikan penghormatan sebesar itu kepada orang biasa."
Basukarna menggenggam busurnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Semakin kalian berusaha menyembunyikannya, semakin besar keinginanku untuk membongkar rahasia itu."
Tanpa menunggu aba-aba, Basukarna mengibaskan tali kekang kudanya.
Kereta Raja Awangga melesat keluar dari barisan Astina. Debu mengepul tinggi, sementara roda-roda kereta berderak keras membelah tanah Kurusetra.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani