Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Kangka... usiamu sudah tua. Jangan membuat lelucon di hadapan raja."
Namun, Dwija Kangka tetap berdiri tegak.
"Hamba tidak sedang bergurau."
"Hamba hanya menyampaikan apa yang benar."
Prabu Matsapati mulai meninggikan suara.
"Kangka! Apakah engkau hendak mengatakan bahwa seluruh prajuritku berbohong?"
Dwija Kangka menggeleng.
"Hamba tidak berkata demikian."
"Lalu?"
Baca Juga: Cerpen Wayang Kemenangan Wirata Bagian 1: Pahlawan yang Sebenarnya
"Hamba hanya mengatakan bahwa banyak laporan disampaikan hanya agar raja merasa senang."
Kalimat itu membuat wajah para prajurit memerah.
Seorang prajurit berteriak.
"Itu fitnah!"
Namun, Dwija Kangka tetap tenang.
"Fitnah hanya menyakitkan bila tidak benar."
Dwija Kangka menatap satu per satu wajah para pejabat.
"Gusti Prabu... seorang raja tidak membutuhkan berita yang menyenangkan. Seorang raja membutuhkan berita yang benar. Karena keputusan yang lahir dari kebohongan hanya akan melahirkan penyesalan."
Ia berhenti sejenak.
"Bila para bawahan hanya pandai menyenangkan hati rajanya, lalu siapa yang akan menjaga agar Paduka tidak tersesat oleh pujian?"
Baca Juga: RAMALAN MBAH SAKAT Indonesia vs Kamboja, Laga Bertepatan Weton Senin Kliwon Neptu 12
Suasana pendapa menjadi sangat hening.
Ucapan itu justru membuat Prabu Matsapati semakin murka.
"Diam!"
Bentaknya menggema.
"Beraninya engkau mengajariku menjadi raja!"
Dwija Kangka menangkupkan kedua tangan.
"Hamba tidak mengajari. Hamba hanya menjalankan kewajiban seorang abdi. Abdi yang baik bukan yang selalu berkata 'ya', tetapi yang berani berkata benar meskipun pahit."
Kalimat terakhir itu membuat amarah Matsapati memuncak.
Dengan tangan gemetar, Prabu Matsapati mengambil kotak kayu tempat menyimpan dadu kerajaan. Tanpa berpikir panjang, kotak itu dilemparkannya ke arah Dwija Kangka.
Brak!
Kotak itu menghantam pelipis Dwija Kangka.
Tubuhnya terhuyung.
Darah perlahan mengalir dari kepalanya.
Namun, darah itu bukan merah.
Melainkan putih bening laksana susu.
Seluruh isi pendapa berdiri terkejut.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani