Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Ada sesuatu yang harus hamba sampaikan."
Namun, sebelum sempat melanjutkan, para pejabat lebih dahulu berseru.
"Hidup Putra Wirata! Hidup calon putra mahkota! Daulat Raden Utara!"
Sorak-sorai memenuhi pendapa.
Utara memandang ayahnya dengan wajah gelisah. Seolah ada beban besar yang tidak sanggup lagi disimpannya.
Prabu Matsapati menggenggam kedua bahu putranya.
"Tidak perlu rendah hati, Anakku. Kemenangan ini adalah milikmu. Mulai hari ini seluruh Bharata akan mengenal nama Raden Utara."
Utara menarik napas panjang. Wajahnya tampak semakin resah.
"Ayahanda... kemenangan ini bukan milikku. Bila aku terus diam, berarti aku sedang menikmati pujian yang menjadi hak orang lain," batinnya.
Baca Juga: Cerpen Wayang Kemenangan Wirata Bagian 1: Pahlawan yang Sebenarnya
Pendapa kembali dipenuhi sorak kemenangan. Namun, di tengah kegembiraan itu, Raden Utara sama sekali tidak merasakan kebahagiaan.
Pandangannya justru mengarah ke pintu keluar, tempat Dwija Kangka dan Niken Salindri baru saja diusir.
Ia memahami bahwa orang tua itu telah berani mempertaruhkan darahnya demi mempertahankan sebuah kebenaran.
Utara kemudian menatap ayahandanya dengan tekad yang bulat.
"Tidak, Ayahanda. Aku tidak akan membiarkan Wirata dibangun di atas kebohongan. Cepat atau lambat, Paduka harus mengetahui bahwa pahlawan yang sesungguhnya bukanlah Raden Utara, melainkan Wrehatnala yang selama ini hidup sederhana di dalam istana," gumamnya dalam hati.
Pendapa masih bergemuruh oleh pujian, tetapi tak seorang pun menyadari bahwa sebuah pengakuan besar akan segera mengubah sejarah Kerajaan Wirata.
Di luar Paseban Agung, senja perlahan menyelimuti Kerajaan Wirata. Cahaya keemasan matahari memantul di atap-atap pendapa, seolah menjadi saksi bahwa kebenaran boleh saja tertutup oleh pujian dan kebanggaan, tetapi tidak akan pernah hilang ditelan waktu.
Prabu Matsapati masih larut dalam kebahagiaannya menyambut kepulangan Raden Utara. Sementara itu, sang pangeran justru menundukkan kepala, memikul beban yang semakin berat di dalam hatinya.
Di kejauhan, Dwija Kangka dan Niken Salindri berjalan meninggalkan istana dengan langkah tenang tanpa sedikit pun menyimpan dendam.
Mereka percaya bahwa suatu hari nanti tabir kebohongan akan tersingkap dengan sendirinya.
Saat waktu itu tiba, seluruh negeri Wirata akan mengetahui bahwa kemenangan besar atas bala tentara Astina bukanlah buah kesombongan seorang pangeran, melainkan hasil pengorbanan seorang kesatria agung yang rela menyembunyikan nama dan kemuliaannya di balik samaran seorang Wrehatnala.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani