--------------
Nuansa tradisional begitu kental pada bangunan rumah Bayu Sanjoyo di Jalan Serayu Gang V, Kelurahan Pandean, Taman. Sebuah lukisan bertema ketoprak seolah menyambut setiap tamu yang datang. Sementara, di teras terdapat dua buah wayang berserta geber berukuran mini.
Bayu Sanjoyo merupakan seorang dalang wayang kulit. Dia menekuni kesenian tradisional itu sejak 2000 silam. Bakat seni yang mengalir di darahnya tidak terlepas dari sosok sang ayah yang seniman ketoprak. ‘’Tahun 2008 saya mulai belajar di sanggar milik dalang sepuh di Maospati (Magetan),’’ ungkapnya.
Meski saat ini banyak dalang yang memasukkan banyak unsur humor dalam setiap pementasannya, Bayu enggan ikut arus. Pria 50 tahun itu memilih mengusung pakem klasik lazimnya dalang masa lampau. ‘’Sebenarnya bisa saja saya kombinasikan dengan guyonan, tapi alur ceritanya pasti berantakan,’’ tuturnya.
Bagi Bayu, kepuasan terbesar saat mengisi pergelaran wayang adalah ketika para penonton larut dalam kisah yang dibawakan. ‘’Biasanya pihak yang mengundang hanya minta menceritakan tokoh tertentu. Misalnya Srikandi. Dari situ saat harus bisa mengeksplornya,’’ beber Bayu.
Selama ini, nama Bayu sebagai dalang lebih dikenal di luar daerah seperti Sukabumi, Bali, dan sejumlah kota di Jawa Tengah. ‘’Namanya juga hobi, jadi enjoy saja menjalani,’’ ucapnya. *** (isd) Editor : Hengky Ristanto