Jawa Pos Radar Madiun - Akhir bulan sering kali menjadi fase paling kritis bagi mahasiswa perantauan. Saldo rekening yang kian menipis membuat banyak anak kos otomatis menjadikan mi instan sebagai pahlawan penyelamat perut. Padahal, mengonsumsi mi instan terus-menerus bukan solusi terbaik untuk kesehatan fisik maupun kewarasan otak selama mengerjakan tugas kuliah.
Sebenarnya, ada banyak strategi bertahan hidup yang realistis dan tetap sehat tanpa harus mengorbankan gizi. Kunci utamanya terletak pada kedisiplinan mengatur sisa uang saku dan kreativitas di dapur kos.
Pertama, terapkan meal prep (persiapan makan) murah meriah. Anda tidak perlu bahan makanan mahal. Manfaatkan rice cooker andalan untuk memasak nasi sendiri, lalu beli lauk pauk mentah yang murah meriah seperti tempe, tahu, telur, dan sayur bayam atau sop.
Baca Juga: Citizen AQ4102-01X, Kemewahan Jam Tangan Jepang dalam Balutan Super Titanium dan Eco-Drive
Dengan uang Rp 20.000, Anda bisa menyetok lauk protein nabati dan telur yang cukup untuk dua hari jika dimasak sendiri. Rebusan atau tumisan sederhana jauh lebih mengenyangkan dan sehat dibanding makanan instan.
Kedua, terapkan sistem jatah harian yang ketat. Hitung sisa uang saku Anda dan bagi dengan jumlah hari yang tersisa hingga kiriman bulanan tiba. Misalnya, jika sisa uang Rp 150.000 untuk lima hari, maka batas maksimal pengeluaran harian Anda adalah Rp 30.000.
Pisahkan uang tersebut secara fisik atau pindahkan ke dompet digital yang berbeda agar Anda tidak "kebablasan".
Ketiga, puasa nongkrong dan jajan lifestyle. Ini adalah pengeluaran siluman yang sering bikin mahasiswa boncos. Tahan dulu godaan membeli es kopi susu kekinian atau camilan di minimarket.
Baca Juga: 564 Jemaah Haji Ponorogo Pulang Jumat, Disambut di Alun-alun
Sebagai gantinya, manfaatkan fasilitas gratis di kampus. Sering-seringlah memantau informasi diskusi publik, seminar, atau acara unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang biasanya menyediakan konsumsi gratis bagi pesertanya.
Terakhir, catat pengeluaran sekecil apa pun. Menyadari ke mana larinya uang saku akan memberikan efek psikologis agar Anda lebih berhati-hati dalam bertransaksi.
Baca Juga: BGN Ultimatum 71 SPPG di Magetan, Wajib Beli Telur Langsung dari Peternak
Masa kritis di akhir bulan sebenarnya adalah kawah candradimuka bagi mahasiswa untuk belajar manajemen finansial sebelum memasuki dunia kerja yang sesungguhnya.
Bertahan di akhir bulan butuh strategi, bukan sekadar pasrah pada mi instan. Dengan perencanaan yang matang, perut tetap kenyang, dompet aman, dan kesehatan pun tetap terjaga.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani