Jawa Pos Radar Madiun - Kabar kurang sedap kembali menghampiri pergerakan nilai mata uang kita.
Setelah sehari sebelumnya sempat bernapas lega, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali lesu pada awal perdagangan hari Kamis (9/4/2026).
Berdasarkan pantauan data pasar, Rupiah dibuka melemah tipis 0,06 persen ke posisi Rp 17.015 per Dolar AS.
Padahal, pada penutupan perdagangan Rabu (8/4/2026) kemarin, Rupiah sukses menguat di angka Rp 17.005 per Dolar AS.
Melemahnya nilai tukar Rupiah hari ini sangat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di luar maupun di dalam negeri. Berikut rinciannya.
Baca Juga: IHSG Rehat Sejenak, Turun 0,56 Persen Imbas Ketegangan Baru AS-Iran dan Sinyal The Fed
Faktor Luar Negeri (Eksternal)
Para investor di pasar global masih ragu dengan status kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai belum sepenuhnya aman.
Situasi geopolitik yang masih panas ini membuat pergerakan Dolar AS naik-turun dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Faktor Dalam Negeri (Internal)
Bank Indonesia (BI) baru saja mengumumkan bahwa "celengan" alias cadangan devisa negara kita mengalami penyusutan.
Pada bulan Maret 2026, cadangan devisa turun menjadi US$ 148,2 miliar (berkurang dari posisi US$ 151,9 miliar pada Februari 2026).
Baca Juga: Prabowo Jamin Stok BBM Nasional Aman dari Krisis Global, BPH Migas Beberkan Rinciannya!
Menurut penjelasan resmi BI, menipisnya cadangan devisa ini terpakai untuk keperluan mendesak, yakni membayar utang luar negeri pemerintah dan melakukan intervensi pasar guna menstabilkan nilai tukar Rupiah di tengah kacaunya kondisi keuangan global.
Meski mengalami penurunan, BI menjamin bahwa posisi tabungan negara saat ini masih berada di batas yang sangat aman untuk melindungi ketahanan ekonomi nasional. (*)
Sayiddil Akbar Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura