Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah kesedihan yang menyelimuti Venezuela akibat gempa bumi dahsyat, secercah harapan masih terus muncul.
Setelah berhari-hari terjebak di bawah puing bangunan, dua anak laki-laki berusia 11 tahun berhasil ditemukan dalam keadaan hidup.
Keberhasilan tersebut menjadi penyemangat bagi tim penyelamat yang masih terus berpacu melawan waktu untuk mencari ribuan korban lainnya.
Dua Anak Berhasil Dievakuasi Hidup-Hidup
Pemerintah sementara Venezuela mengumumkan bahwa sebanyak 33 orang berhasil diselamatkan dari reruntuhan sepanjang akhir pekan.
Di antara para penyintas tersebut terdapat dua anak berusia 11 tahun yang dievakuasi dari lokasi berbeda hanya dalam selang beberapa jam.
Salah satu anak bernama Moises ditemukan setelah tertimbun sekitar tiga meter material bangunan.
Tim penyelamat membutuhkan waktu sekitar enam jam untuk melakukan proses evakuasi dengan teknik khusus hingga akhirnya berhasil mengeluarkannya dalam keadaan hidup.
Baca Juga: Nickelodeon Buka Jalan ke Industri Animasi, Ini Program yang Diburu Talenta Muda
Tak lama kemudian, proses penyelamatan serupa kembali berhasil dilakukan di wilayah Caraballeda terhadap seorang anak laki-laki lain yang juga berusia 11 tahun.
Korban Tewas Terus Bertambah
Meski masih ada kabar baik dari proses evakuasi, kondisi secara keseluruhan tetap memprihatinkan.
Hingga Minggu, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai sedikitnya 1.450 orang.
Gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 magnitudo yang terjadi pada Rabu lalu mengguncang Venezuela hanya dalam selang waktu sekitar 39 detik.
Guncangan tersebut menyebabkan hampir 800 bangunan runtuh dan menjebak ribuan orang di dalamnya.
Puluhan ribu warga lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang sehingga operasi pencarian terus dilakukan.
Peluang Menemukan Korban Selamat Kian Menipis
Tim penyelamat mengakui peluang menemukan korban hidup semakin kecil seiring berlalunya waktu.
Dalam penanganan bencana, periode 48 hingga 72 jam pertama menjadi masa paling penting untuk menyelamatkan korban yang terjebak.
Baca Juga: Remaja Ciptakan Filter Knalpot Murah yang Diklaim Pangkas Emisi Hingga 74 Persen
Meski demikian, para ahli tetap meyakini masih ada kemungkinan menemukan penyintas,
terutama apabila mereka memiliki akses terhadap air maupun makanan selama berada di bawah reruntuhan.
Koordinator PBB di Venezuela, Gianluca Rampolla, menyatakan peluang tersebut masih terbuka walaupun waktu semakin terbatas.
Warga Berusaha Mencari Keluarga dengan Tangan Kosong
Di sejumlah kawasan yang terdampak paling parah, warga terus berupaya mencari anggota keluarga mereka secara mandiri.
Banyak di antara mereka menggali puing-puing menggunakan tangan karena alat berat belum menjangkau seluruh lokasi.
Beberapa keluarga mengaku masih mendengar suara dari bawah reruntuhan, tetapi tidak mampu memindahkan bongkahan beton tanpa bantuan peralatan khusus.
Seorang warga bernama Wilber bahkan mengaku kehilangan delapan anggota keluarganya. Lima di antaranya diyakini masih tertimbun bangunan yang roboh.
Baca Juga: Malam itu Madiun Berubah Jadi Panggung Raksasa, Ada Apa di Balik Spektra Carnival 2026?
Proses Evakuasi Terkendala Berbagai Hambatan
Selain luasnya wilayah terdampak, operasi pencarian juga menghadapi berbagai tantangan.
Gempa susulan masih terjadi sehingga meningkatkan risiko bagi tim penyelamat maupun warga yang berada di sekitar bangunan runtuh.
Sebagian warga juga mengeluhkan lambatnya distribusi bantuan dan terbatasnya akses menuju lokasi bencana. Mereka menilai sejumlah prosedur justru memperlambat proses penyelamatan.
Seorang petugas pemadam kebakaran mengatakan masih banyak gedung yang sama sekali belum diperiksa akibat keterbatasan personel.
Ribuan Warga Mengungsi
Banyak penduduk memilih mengungsi ke tempat terbuka karena khawatir bangunan yang tersisa sewaktu-waktu dapat roboh akibat gempa susulan.
Lapangan golf di Caraballeda kini berubah fungsi menjadi rumah sakit darurat sekaligus pusat distribusi bantuan kemanusiaan.
Lokasi tersebut dipenuhi warga yang kehilangan tempat tinggal dan sedang menunggu bantuan berupa makanan, pakaian, serta obat-obatan.
Pemerintah juga memanfaatkan Kompleks Olahraga José María Vargas sebagai pusat koordinasi penanganan darurat.
Baca Juga: Sensus Ekonomi di Kota Madiun Baru 15,5 Persen, BPS Akui Petugas Terkendala Aplikasi
Bantuan Internasional Berdatangan
Operasi penyelamatan kini diperkuat oleh tim dari berbagai negara, di antaranya:
- Meksiko
- Spanyol
- Amerika Serikat
- Inggris
- Qatar
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut sebanyak 39 tim pencarian dan penyelamatan telah diterjunkan.
Total personel yang terlibat mencapai hampir 2.000 orang, didukung 111 anjing pelacak, tenaga medis, hingga drone berukuran kecil yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan korban di sela-sela reruntuhan.
Meski peluang menemukan penyintas terus menurun, seluruh tim masih berupaya memaksimalkan pencarian dengan harapan masih ada korban yang dapat diselamatkan. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun