Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Bukan Lagi Mimpi Astronot, 650 Orang Sudah Pesan Tiket ke Luar Angkasa, Ini Peta Wisata Ruang Angkasa 2026

Tim Magang Radar Madiun • Senin, 29 Juni 2026 | 12:23 WIB
Blue Origin
Blue Origin's New Shepard suborbital crew capsule 2.0 (space.com)

Jawa Pos Radar Madiun - Pada 2001, seorang pengusaha Amerika bernama Dennis Tito membayar sekitar $20 juta untuk menginjakkan kaki di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS),

menggunakan roket Soyuz milik Rusia dan dunia menyebutnya "turis antariksa pertama."

Dua puluh lima tahun kemudian, industri yang ia bantu lahirkan itu telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar,

lebih beragam, dan lebih mudah diakses dari sebelumnya.

New York Times baru-baru ini menelaah kondisi terkini dan prospek masa depan industri pariwisata antariksa,

Baca Juga: Indonesia Siapkan Spaceport Biak Mulai 2026, Langkah Besar Menuju Kemandirian Antariksa

dan gambarannya jauh lebih menggembirakan dari yang banyak orang perkirakan.

Virgin Galactic: 650 Pemesan dari 60 Negara

Pemain paling vokal di segmen pariwisata suborbital adalah Virgin Galactic.

Perusahaan ini menggunakan pesawat induk berbentuk jet yang disebut Virgin Mothership,

terbang ke ketinggian sekitar 15 km sebelum melepaskan wahana antariksa yang membawa penumpang menuju garis Kármán, batas resmi antara atmosfer Bumi dan ruang angkasa.

Para penumpang kemudian mengalami beberapa menit tanpa bobot yang mengubah perspektif, sebelum kembali ke Bumi.

Sejak 2018, Virgin Galactic sudah mengirim 32 orang ke antariksa. Setelah menghentikan penjualan tiket selama dua tahun,

perusahaan kini melanjutkannya dengan harga $750.000 per kursi, 

Baca Juga: NASA Batalkan Rencana Modul Inti ISS, Industri Antariksa Komersial Akhirnya Menang

dan hasilnya mengejutkan: lebih dari 650 penumpang dari 60 negara sudah memesan.

Virgin Galactic juga sedang menguji wahana baru yang meningkatkan kapasitas penumpang dari 4 menjadi 6 orang,

dengan target mengirimkan sekitar 750 orang per tahun mulai 2027-2028.

Blue Origin: Rehat Sementara untuk Ambisi Lebih Besar

Blue Origin menawarkan pengalaman yang berbeda. Roket New Shepard diluncurkan secara vertikal,

membawa penumpang dalam penerbangan suborbital selama sekitar 11 menit, cukup untuk melampaui garis Kármán dan merasakan beberapa menit tanpa gravitasi. 

Hingga kini, 92 orang telah merasakan pengalaman itu.

Namun awal tahun ini, setelah menyelesaikan penerbangan suborbital ke-38,

Blue Origin mengumumkan penghentian sementara program penerbangan sipilnya setidaknya selama dua tahun.

Baca Juga: Teleskop Baru NASA Siap Diluncurkan 2026, Mampukah Mengungkap Misteri Terbesar Alam Semesta?

Alasannya bukan kemunduran, melainkan ambisi yang lebih besar: perusahaan ingin fokus mengembangkan roket orbital dan lunar lander untuk NASA.

Ini adalah tanda bahwa Blue Origin sedang mempersiapkan diri untuk babak kompetisi antariksa yang jauh lebih serius.

SpaceX dan Axiom Space: Bermalam di Orbit, Bukan Hanya Lewat

Bagi mereka yang ingin lebih dari sekadar 11 menit, SpaceX menawarkan perjalanan orbital sesungguhnya menggunakan wahana Crew Dragon.

Harganya sangat berbeda: sekitar $200 juta atau sekitar 3 triliun,

untuk empat penumpang, dengan durasi perjalanan 3 hingga 6 hari dan pelatihan intensif hingga 9 bulan sebelumnya. 

Hingga kini, 24 orang telah menjalani pengalaman ini.

Sementara itu, Axiom Space memilih pendekatan yang lebih unik. Sejak 2022,

 perusahaan ini telah mengirim 20 penumpang pribadi untuk tinggal di ISS menggunakan roket SpaceX,

dengan Axiom hanya membeli jasa transportasinya. Harga per kursinya sekitar $60 juta, dengan durasi tinggal hingga dua minggu. 

Baca Juga: NASA Ajak Publik Ikut Terbang Bersama Roman Space Telescope, Apa Misi Besarnya?

Yang lebih menarik, Axiom sedang membangun stasiun luar angkasa komersial pertama di dunia, selaras dengan rencana pensiun ISS pada 2030. 

"Pertanyaannya Bukan Lagi Bisa Tidakkah Kita ke Sana"

Rachel Fu, profesor manajemen pariwisata dan perhotelan dari University of Florida,

menangkap esensi transformasi ini dengan tepat. Ia memprediksikan bahwa dalam beberapa tahun ke depan,

berbagai produk wisata antariksa baru akan muncul, mulai dari hotel dan laboratorium di orbit Bumi hingga paket eksplorasi bulan.

"Pertanyaan kuncinya sekarang bukan lagi 'Bisakah kita pergi ke luar angkasa?' tapi 'Bisakah kita tinggal di sana, hidup di sana, dan berkembang di sana?'" ujarnya kepada NYT.

Baca Juga: Artemis II 2026: Ketika Bumi Terlihat Kecil di Tengah Gelapnya Ruang Angkasa

Pergeseran pertanyaan itu mencerminkan betapa jauh industri ini telah berkembang,

dari sekadar mimpi satu pengusaha eksentrik di 2001, menjadi ekosistem komersial yang melibatkan ratusan nama dari enam puluh negara,

yang sudah siap membayar ratusan ribu hingga ratusan juta dolar untuk satu kesempatan menyentuh batas langit. (*)

*Dwiki Dermawan, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Magang Radar Madiun
#antariksa #spacex