Jawa Pos Radar Madiun - Ketika membahas upaya menjaga lingkungan, perhatian publik biasanya tertuju pada pengurangan emisi karbon atau transisi menuju energi bersih.
Namun, di belahan utara China, terdapat proyek berskala raksasa yang telah berlangsung hampir setengah abad dengan tujuan yang berbeda: memulihkan bentang alam yang terdegradasi sekaligus menahan laju perluasan gurun.
Program tersebut dikenal sebagai Three-North Shelter Forest Program atau lebih populer dengan sebutan Great Green Wall.
Dimulai sejak 1978 dan direncanakan berlanjut hingga 2050, proyek ini kini disebut sebagai program restorasi hutan terbesar yang pernah dilakukan di dunia.
Great Green Wall Jadi Pilar Restorasi Ekologi China
Three-North Shelter Forest Program mencakup wilayah timur laut, utara, hingga barat laut China, yang secara keseluruhan meliputi sekitar 42 persen wilayah negara tersebut.
Meski sering disebut "tembok hijau", proyek ini bukan berarti menanam pohon secara terus-menerus membentuk dinding hutan.
Program tersebut menggabungkan berbagai pendekatan, mulai dari pembangunan sabuk hijau (shelterbelt), restorasi padang rumput, stabilisasi bukit pasir, hingga pemulihan ekosistem sesuai karakter masing-masing wilayah.
Tujuan utamanya adalah mengurangi dampak penggurunan (desertifikasi), menekan erosi akibat angin, mengurangi badai pasir, melindungi lahan pertanian, serta meningkatkan kualitas lingkungan bagi masyarakat di wilayah utara China.
Baca Juga: Rp 4,6 Miliar Digelontorkan, Empat Jalan Poros Desa di Ngawi Segera Diperbaiki
Puluhan Juta Hektare Hutan Telah Dibangun
Restorasi dalam Skala Raksasa
Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip dalam artikel, lebih dari 30 juta hektare pohon telah ditanam sejak program dimulai. Luasan tersebut setara sekitar 300 ribu kilometer persegi.
Salah satu pencapaian penting adalah rampungnya sabuk hijau sepanjang 3.000 kilometer yang mengelilingi Gurun Taklamakan di Xinjiang setelah proses restorasi selama 46 tahun.
Secara nasional, tutupan hutan China juga mengalami peningkatan signifikan. Data resmi menunjukkan luas hutan telah melampaui 25 persen pada akhir 2023, meningkat dibanding sekitar 10 persen pada 1949.
Namun, peningkatan tersebut merupakan hasil gabungan berbagai program kehutanan nasional, bukan semata-mata karena Great Green Wall.
Berkontribusi Menyerap Karbon
Ekspansi kawasan hutan turut meningkatkan kemampuan China dalam menyerap karbon dari atmosfer.
Penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications pada 2024 mencatat luas hutan tanaman China meningkat hampir 94,33 persen selama periode 1990–2020.
Dalam kurun waktu yang sama, cadangan karbon pada biomassa hutan tanaman naik dari sekitar 675,6 juta ton menjadi 1,87 miliar ton karbon.
Artinya, terjadi tambahan sekitar 1,2 miliar ton karbon yang tersimpan dalam tiga dekade.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa peningkatan tersebut mencerminkan seluruh hutan tanaman di China, bukan hanya hasil Three-North Shelter Forest Program.
Baca Juga: Raksasa Laut yang Datang Diam-Diam, Ini Alasan Pantai Irlandia Jadi Magnet Hiu Raksasa
Keberhasilan yang Mulai Terlihat
Lingkungan Lebih Stabil
Sejumlah penelitian menunjukkan program ini memberikan berbagai manfaat lingkungan, antara lain:
- Mengurangi erosi tanah akibat angin.
- Menekan pergerakan pasir di sejumlah wilayah.
- Meningkatkan kemampuan penyimpanan karbon.
- Membantu melindungi lahan pertanian.
- Mendorong peningkatan aktivitas ekonomi lokal di beberapa daerah.
Selain itu, proyek ini juga menghasilkan pengalaman ilmiah yang berharga. Selama puluhan tahun, para peneliti terus mengevaluasi jenis pohon, kepadatan penanaman, hingga teknik restorasi agar lebih sesuai dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda.
Masih Menghadapi Berbagai Tantangan
Di balik berbagai capaian tersebut, para ilmuwan juga mencatat sejumlah keterbatasan.
Pada tahap awal pelaksanaan, sebagian penanaman mengalami tingkat keberhasilan rendah karena menggunakan spesies yang kurang sesuai dengan kondisi wilayah kering.
Ketersediaan air juga menjadi tantangan utama. Di daerah dengan curah hujan sangat rendah, penanaman pohon dapat meningkatkan persaingan penggunaan air dengan vegetasi alami maupun aktivitas pertanian.
Selain itu, para peneliti mengingatkan bahwa hutan monokultur atau penanaman satu jenis pohon dalam area luas lebih rentan terhadap serangan hama, penyakit, kekeringan, dan kebakaran dibanding ekosistem yang memiliki keanekaragaman hayati lebih tinggi.
Baca Juga: Elon Musk Kembali Jadi Sorotan, Film Kontroversial Ini Memicu Perdebatan di Eropa
Restorasi Tak Lagi Sekadar Menanam Pohon
Seiring berjalannya waktu, pendekatan dalam Great Green Wall terus berkembang.
Alih-alih hanya berfokus pada jumlah pohon yang ditanam, program kini lebih menekankan penggunaan spesies lokal, efisiensi penggunaan air, restorasi padang rumput, pemulihan vegetasi alami, hingga kombinasi pohon, semak, dan rumput yang disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah.
Pendekatan adaptif tersebut dinilai menjadi salah satu pelajaran paling berharga dari proyek ini.
Restorasi ekologi tidak cukup diukur dari banyaknya pohon yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan ekosistem untuk bertahan, menjaga keanekaragaman hayati, serta berfungsi secara alami dalam jangka panjang.
Dengan target penyelesaian hingga 2050, Great Green Wall menjadi contoh bagaimana restorasi lingkungan membutuhkan komitmen lintas generasi, pemantauan ilmiah yang berkelanjutan, dan kesiapan untuk terus memperbaiki strategi berdasarkan bukti ilmiah terbaru. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : globalsociety.earth