Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Waspada! Terlalu Sering Makan Gorengan Saat Berbuka Puasa Bisa Picu Jantung, Diabetes hingga Gangguan Hati

Rimba Febriani • Selasa, 24 Februari 2026 | 16:33 WIB

Berbuka dengan gorengan? Nikmat sesaat, risikonya bisa jangka panjang.
Berbuka dengan gorengan? Nikmat sesaat, risikonya bisa jangka panjang.

Jawa Pos Radar Madiun – Gorengan seperti bakwan, risoles, tahu isi, dan tempe goreng memang sulit dipisahkan dari suasana berbuka puasa.

Aromanya menggoda, teksturnya renyah, dan harganya terjangkau. Namun di balik kenikmatan itu, kebiasaan mengonsumsi gorengan secara berlebihan saat berbuka bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan.

Dietisien dari RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, mengingatkan bahwa tubuh yang baru saja berpuasa seharian berada dalam kondisi sensitif.

“Makan terlalu banyak gorengan pada saat berbuka atau sahur dapat memberatkan kerja organ tubuh,” kata Yesi.

Lemak Berlebih Bisa Picu Perlemakan Hati

Setelah sekitar 12 jam tidak mendapat asupan, sistem pencernaan membutuhkan makanan yang ringan dan mudah diserap. Gorengan justru mengandung lemak tinggi yang sulit dicerna, apalagi jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Organ yang pertama terdampak adalah hati. Kelebihan lemak akan disimpan dan berisiko memicu fatty liver atau perlemakan hati. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini bisa berkembang menjadi:

Ancaman Serius untuk Jantung dan Pembuluh Darah

Tak hanya hati, jantung dan pembuluh darah juga berada dalam ancaman. Lemak jenuh dan kolesterol dari gorengan dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah.

Akibatnya, risiko berikut meningkat:

Jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus selama Ramadan, efeknya bisa berlanjut jauh setelah bulan puasa berakhir.

Bisa Memicu Diabetes dan Gangguan Ginjal

Asupan lemak berlebih juga berdampak pada pankreas. Kondisi ini dapat memicu resistensi insulin yang menjadi pintu masuk diabetes melitus.

Selain itu, ginjal dipaksa bekerja lebih keras untuk menyaring zat sisa metabolisme lemak. Dalam jangka panjang, situasi ini berisiko menyebabkan gangguan ginjal kronik.

Sesak Napas hingga Gangguan Kesuburan

Penumpukan lemak di area perut bukan sekadar masalah estetika. Lemak viseral dapat menekan diafragma dan memicu sesak napas. Ketidakseimbangan hormon akibat obesitas juga berpotensi menurunkan tingkat kesuburan.

Risiko makin besar pada individu dengan berat badan berlebih atau obesitas. Jika dibiarkan, komplikasi yang mungkin muncul meliputi:

Baca Juga: Film One Battle After Another Borong Penghargaan di BAFTA 2026, Sabet Film Terbaik hingga Sutradara Terbaik

Berapa Batas Aman Makan Gorengan saat Puasa?

Gorengan tidak harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya ada pada kontrol porsi dan frekuensi.

Bagi berat badan normal:

Bagi yang mengalami obesitas atau kegemukan:

Selain itu, perhatikan hal berikut:

Baca Juga: BMKG Warning Cuaca Ekstrem di Pacitan, Warga Diminta Waspada 21–28 Februari

Alternatif Takjil Sehat yang Lebih Aman

Agar tubuh beradaptasi secara perlahan setelah puasa, awali berbuka dengan pilihan yang lebih ramah pencernaan seperti:

Makanan tersebut membantu mengembalikan cairan tubuh, menstabilkan gula darah, dan tidak membebani organ secara tiba-tiba.

Berbuka puasa bukan hanya soal memuaskan rasa lapar, tetapi juga momentum menjaga kesehatan. Nikmati gorengan secukupnya, jangan sampai kenikmatan sesaat berubah menjadi risiko penyakit jangka panjang. (fin)

 

Editor : AA Arsyadani
#gangguan ginjal #bahaya gorengan saat berbuka #diabetes #sesak napas #bahaya gorengan #gangguan kesuburan