Jawa Pos Radar Madiun - Di balik tawa dan konten media sosial yang terlihat bahagia, jutaan remaja Indonesia menyimpan beban yang tidak pernah mereka ceritakan kepada siapapun.
Survei nasional terbesar yang pernah dilakukan khusus untuk remaja Indonesia mengungkap kenyataan yang mengejutkan.
Satu dari tiga remaja setara 15,5 juta orang memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental yang nyata.
Survei Terbesar Remaja Indonesia Bicara
Survei I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) digelar melalui kolaborasi Universitas Gadjah Mada bersama University of Queensland Australia dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health Amerika Serikat.
Ini adalah penelitian pertama kali yang secara khusus mengukur prevalensi gangguan mental remaja berusia 10–17 tahun di Indonesia secara nasional.
Hasilnya menampar: 34,9 persen atau sekitar 15,5 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental, mencakup depresi, kecemasan, stres pasca trauma, masalah perilaku, dan gangguan pemusatan perhatian.
Baca Juga: &TEAM Resmi Umumkan Comeback Korea Perdana, Mini Album 'Mark on Me' Rilis September
Kecemasan Jadi Masalah Terbesar
Di antara semua jenis gangguan yang ditemukan, kecemasan menjadi yang paling dominan.
Remaja perempuan lebih banyak mengalami kecemasan dengan angka 28,2 persen, dibanding remaja laki-laki di angka 25,4 persen.
Sementara itu, tingkat depresi pada remaja perempuan tercatat 6,7 persen hampir dua kali lipat dibanding remaja laki-laki yang berada di angka 4 persen.
Mengapa Begitu Sedikit yang Mencari Bantuan?
Meski angkanya besar, sebagian besar remaja tidak mencari pertolongan—dan penyebabnya bukan karena mereka tidak butuh.
Stigma sosial yang masih kuat membuat banyak remaja memilih diam daripada dianggap "lemah" atau "lebay" oleh lingkungan sekitar mereka.
Riset Universitas Airlangga terhadap 500 artikel ilmiah menemukan bahwa tekanan akademik, kondisi ekonomi keluarga, dan media sosial menjadi tiga faktor paling dominan yang menggerogoti keseimbangan mental remaja.
Peran Media Sosial yang Tidak Bisa Diabaikan
Aktivitas daring yang berlebihan terbukti meningkatkan risiko kecemasan dan depresi pada remaja secara signifikan.
Platform media sosial yang dirancang untuk membuat pengguna terus terpaku menciptakan lingkaran perbandingan sosial yang sulit dihentikan oleh remaja yang masih dalam proses membentuk identitas dirinya.
Dalam kondisi ini, peran keluarga dan sekolah sebagai ruang aman untuk bercerita menjadi jauh lebih krusial dari yang sering disadari.
Baca Juga: Arsenal Siapkan 130 Juta Euro untuk Morgan Rogers, Jadi Target Utama di Bursa Transfer Musim Panas
Apa yang Bisa Dilakukan Mulai Hari Ini?
Pertanyaan terbesar bukan lagi "berapa banyak remaja yang bermasalah?" melainkan "siapa yang akan menolong mereka?"
Orang tua yang membuka ruang percakapan tanpa menghakimi, guru yang peka terhadap perubahan perilaku siswa, dan teman sebaya yang tidak meremehkan perasaan semua memiliki peran nyata dalam memutus rantai ini.
Angka 15,5 juta bukan sekadar statistik itu adalah 15,5 juta alasan untuk mulai peduli lebih dalam terhadap orang-orang muda di sekitar kita. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun