Jawa Pos Radar Madiun – Cuaca panas kering di Madinah mulai memicu gangguan kesehatan ringan pada calon jemaah haji (CJH) Kloter SUB 22.
Sejumlah jemaah dilaporkan mengalami kulit kering hingga pecah-pecah, terutama pada wajah dan bibir.
Ketua Kloter SUB 22 Zainal Arifin menyebut, keluhan muncul akibat perbedaan iklim yang cukup ekstrem antara Indonesia dan Arab Saudi.
Saat ini suhu di Madinah berada di kisaran 30 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan rendah.
’’Ada beberapa jemaah mengalami kulit kering dan pecah-pecah karena perbedaan cuaca,’’ ujarnya, Sabtu (2/5).
Meski muncul keluhan, kondisi umum jemaah dipastikan tetap stabil. Seluruh rangkaian ibadah, termasuk salat arbain di Masjid Nabawi, masih dapat dijalankan dengan baik.
Petugas kloter bersama tim kesehatan langsung melakukan langkah antisipasi. Jemaah diingatkan untuk menjaga kecukupan cairan guna mencegah dehidrasi.
Selain memperbanyak konsumsi air putih dan oralit, jemaah diminta menggunakan pelindung seperti topi atau payung saat beraktivitas di luar ruangan.
Penggunaan pelembap, lip balm, serta tabir surya juga dianjurkan untuk mengurangi dampak paparan panas.
’’Ini penting agar kondisi tubuh tetap terjaga selama menjalankan ibadah,’’ tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto