Jawa Pos Radar Madiun – Siapa sangka dua hidangan tradisional yang tampaknya tidak berhubungan, yakni rujak dan soto, bisa melebur menjadi satu sajian yang begitu kaya rasa?
Tak hanya unik dari segi tampilan, makanan ini juga menyimpan cerita panjang tentang kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi.
Di balik piring sederhana berisi sayuran rebus, kuah panas, dan sambal kacang yang pedas gurih, tersimpan filosofi tentang perpaduan tradisi dan inovasi.
Rujak soto bukan sekadar makanan, tapi representasi budaya yang hidup dalam setiap suapan.
Perpaduan Bumbu Rujak Bertemu Kuah Soto
Konsep dasar rujak soto dimulai dari rujak sayur: paduan kangkung, tauge, dan mentimun yang disiram dengan bumbu kacang kental.
Namun yang membuatnya luar biasa adalah saat bumbu rujak ini disiram kuah soto panas, lengkap dengan potongan daging sapi, babat, atau ceker ayam.
Ketika disendok bersamaan, muncul sensasi rasa yang mengejutkan namun harmonis: gurihnya kaldu soto, manisnya bumbu kacang, dan segarnya sayuran bersatu tanpa saling mendominasi.
Solusi Cerdas di Tengah Harga Daging Melambung
Di saat harga daging sapi melambung, para penjual rujak soto tak kehabisan akal. Mereka mulai menawarkan versi alternatif menggunakan ayam kampung atau ceker ayam.
Hasilnya? Rasa tetap lezat, bahkan beberapa pelanggan mengaku lebih menyukai versi ini karena kuahnya lebih ringan dan aroma ayam kampungnya menambah daya tarik tersendiri.
Langkah ini bukan hanya strategi dagang, tetapi juga mencerminkan adaptasi kulinrter lokal terhadap realitas ekonomi yang dinamis.
Es Temulawak, Pasangan Serasi Si Penyet Rasa
Tak ada yang lebih menyegarkan setelah semangkuk rujak soto panas selain segelas es temulawak dingin.
Minuman tradisional berbahan rimpang ini dikenal memiliki manfaat bagi pencernaan dan menjadi pelengkap sempurna bagi rasa kompleks rujak soto.
Dingin dan hangat, pedas dan segar—semua kontras dalam satu pengalaman makan yang memanjakan lidah dan tubuh. (ebo/cor)
Editor : Andi Chorniawan