KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Rencana Pemkot Madiun meregrouping alias menggabung SMPN 1, SMPN 3 dan SMPN 13 menjadi satu sekolah komplek batal. Hasil kajian justru mengarahkan agar dinas pendidikan (dindik) mengubah pola pembelajaran para guru di tiga sekolah itu. ‘’Dijadikan satu hanya pada pola pendidikannya. Sederhananya, mutu dan kualitas pendidikan tiga sekolah ini disetarakan,’’ kata Kadindik Kota Madiun Lismawati kemarin (23/7).
Pihaknya tak menampik wacana penggabungan sekolah sempat mengemuka. Tapi, rencana itu berubah di tengah jalan. Karena hasil kajian hanya merekomendasikan efisiensi dan efektivitas pola pendidikan, bukan regrouping. ‘’Tenaga pendidikan tiga sekolah ini sama. Contohnya, satu guru bisa jadi mengajar di tiga sekolah tersebut,’’ ujarnya.
Menurutnya, kesetaraan pola pendidikan SMPN 1, 3 dan 13 bakal menjadi pilot project pembangunan smart school. Yang mana kegiatan belajar-mengajar di tiga sekolah tersebut akan berbasis informasi teknologi (IT) murni. Selain itu, ditambah dengan pembelajaran bilingual atau multibahasa oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa). ‘’Tahun ajaran 2023/2024 sudah berjalan,’’ kata Lismawati.
Selain SMPN 1, 3 dan 13, lanjut dia, ada SMPN 9, 10 dan 11 yang juga akan menerapkan program serupa. Hanya saja, implementasinya menunggu hasil monitoring dan evaluasi (monev) SMPN 1, 3 dan 13 terlebih dahulu. ‘’Penggabungan tidak harus lokasi sekolah berada dalam satu komplek. Tidak menutup kemungkinan sekolah tepian (pinggir kota, Red) juga dilakukan hal serupa,’’ terangnya.
Lismawati mengatakan, model penggabungan semacam itu dapat menjadi solusi percepatan mutu dan kualitas pendidikan di Kota Madiun. ‘’Kalau seperti ini seluruh sekolah bersama-sama untuk mencapai dan mewujudkan percepatan smart school,’’ pungkasnya. (ggi/her)
Editor : Mizan Ahsani