KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Perkakas rumah tangga di halaman Titik Roesmiati tampak beda. Meja dan kursi yang ada bukan dari kayu atau material lain yang kerap dimanfaatkan.
Perkakas rumah itu dirakit dari sejumlah botol air mineral berisi potongan limbah plastik yang dipadatkan alias ecobrick.
''Ecobrick itu solusi masalah limbah plastik tanpa menggunakan teknologi tinggi,'' kata Warga Jalan Mayjend Sungkono, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, itu.
Perkenalan Titik dengan ecobrick berawal saat dirinya menjadi peserta pelatihan virtual gelaran Global Ecobrick Alliance lewat Ecobricks.org pada Maret 2021.
Perempuan 53 tahun itu kepincut mendalami teknik mengolor masa urai limbah plastik menjadi material berguna berbentuk lain itu. ''Lima kali ikut zoom meeting waktu itu,'' ingatnya.
Titik kepincut ecobrick. Kendati sempat ditentang keluarga, dia tak bergeming. Berbagai limbah plastik dikumpulkan.
Mulai kantong kresek, kemasan snack, sampai sampah plastik sisa konsumsi lain. Termasuk beberapa botol plastik bekas.
''Awalnya ditentang suami dan anak, kemudian didukung setelah tahu hasilnya,'' ujar istri Koes Hendrawan itu.
Ecobrick juga biasa dimaknai sebagai pengganti bata. Sebab, potongan kecil-kecil sampah plastik yang dipadatkan di dalam botol itu dapat bertahan lebih lama ketimbang masa urainya.
Dapat dimanfaatkan menjadi material beragam perkakas sesuai kreativitas. Meja, kursi, pot, dan yang lain.
''Pembakaran dan penimbunan plastik itu pencemaran, jangan anggap sepele,'' ungkap Titik.
Pengetahuan tentang ecobrick coba ditularkan ke tetangga. Tak terkecuali tentang ketentuan berat potongan plastik setelah dipadatkan di dalam botol.
Titik berprinsip bahwa ecobrick bukan soal produk yang dihasilkan. Namun, lebih ke arah membangun pola pikir untuk bertanggung jawab terhadap sampah.
''Tidak usah menunggu teknologi canggih, cuma butuh kesadaran mengenai sampah plastik,'' tutur guru PPKn SMKN 1 Jiwan itu.
Marwah ecobrick bukan cari cuan. Kalau hasil diperjualbelikan, menurut Titik, hal itu berarti mendukung perkembangbiakan sampah plastik.
''Kalau memperbanyak berarti tidak ada kesadaran terhadap sampah plastik,'' tandasnya. (mg1/den)
Editor : Mizan Ahsani