MAGETAN – Cuaca panas mulai melanda Magetan dalam beberapa hari terakhir.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memastikan musim kemarau tahun ini datang lebih cepat dari biasanya.
Berdasarkan pantauan atmosfer, massa udara kering dari Benua Australia (monsun Australia) mulai masuk ke wilayah Jawa Timur lebih awal.
Kondisi tersebut menandai berakhirnya dominasi uap air lembap.
Baca Juga: BPBD Magetan Verifikasi Dampak Longsor, Proses Rehab Segera Dikebut
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika III BMKG Nganjuk Setyaris mengatakan, pergeseran massa udara kering terjadi cukup signifikan.
“Kondisi ini memicu cuaca cerah dan panas terik yang lebih dominan di wilayah Jawa Timur, termasuk Magetan,” jelasnya, Senin (20/4).
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau, baik nasional maupun di Jawa Timur, terjadi pada Agustus 2026.
Meski demikian, potensi hujan lokal disertai angin kencang masih dapat terjadi pada sore hingga malam hari.
Baca Juga: Siltap Perangkat Desa Aman, DPRD Magetan Pastikan Tak Molor
Kondisi kemarau yang diprediksi lebih panjang dan kering meningkatkan risiko krisis air bersih, kekeringan lahan, hingga kebakaran hutan.
“Antisipasi sejak sekarang agar dampak kemarau nanti tidak parah,” pesannya. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto