Jawa Pos Radar Madiun – Lahir dari lingkungan kampus seni, Rumahsakit bukan sekadar band biasa.
Sejak muncul pada 1994 di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mereka langsung menawarkan warna berbeda yang kemudian membentuk arah musik indie Indonesia.
Rumahsakit terbentuk dari pertemanan dan latar belakang seni para personelnya di IKJ. Formasi awal diisi Ovy (gitar), Andi “Lemes” (vokal), Arief (bass), dan Coki (drum).
Meski sempat mengalami perubahan formasi, karakter musik mereka tetap konsisten—eksploratif dan tidak mengikuti arus utama.
Baca Juga: MASAKRE Makin Buas! Evolusi Deathcrust Ekstrem di EP Morbid Extinction
Warna Britpop dengan Sentuhan Lokal
Secara musikal, Rumahsakit banyak dipengaruhi gelombang Britpop dan indie rock seperti Blur dan The Stone Roses. Namun, mereka tidak sekadar meniru.
Pengaruh tersebut dipadukan dengan pendekatan lokal, menghasilkan warna indie pop yang khas dan berbeda di era 90-an.
Sejumlah lagu seperti Hilang dan Pop Kinetik menjadi cult favorite dan masih relevan hingga sekarang.
Berani di Luar Pakem Industri
Di saat banyak band mengikuti formula industri, Rumahsakit justru memilih jalur independen.
Struktur lagu yang tidak konvensional dan produksi yang cenderung mentah menjadi ciri khas mereka.
Pendekatan ini membuat Rumahsakit sering disebut sebagai salah satu band IKJ paling berani dalam bereksperimen di skena alternatif Indonesia.
Pengaruh yang Tak Pernah Hilang
Meski sempat vakum, nama Rumahsakit tetap kuat di kalangan penikmat musik indie.
Reuni dan penampilan mereka di era modern menunjukkan bahwa pengaruh band ini masih terasa.
Bahkan, banyak musisi muda menjadikan Rumahsakit sebagai referensi dalam membangun identitas musik mereka.
Editor : Andi Chorniawan