Jawa Pos Radar Madiun - Hilirisasi nikel yang terus digembar-gemborkan pemerintah mendapat sorotan dari Rocky Gerung.
Hal itu ia sampaikan saat mengisi Forum Akal Sehat yang dihelat di Kota Madiun, Selasa (7/5) malam lalu.
Di forum tersebut, Rocky Gerung menyampaikan bahwa beberapa waktu sebelumnya ia sempat membaca artikel mengenai hilirisasi nikel di sebuah media asing bernama Foreign Policy.
Menariknya, artikel tersebut ditulis langsung oleh Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan.
Judulnya, Without Indonesia's Nickel, EVs Have No Future in America (Tanpa Nikel Indonesia, Industri Mobil Listrik Tidak Akan Punya Masa Depan di Amerika).
"Bagus argumennya," kata Rocky Gerung.
Ia menambahkan, Luhut dalam artikelnya tersebut menjelaskan bahwa Indonesia sudah mengetahui kendala yang dihadapi industri mobil listrik di Amerika Serikat.
Pun, Indonesia siap membantu Amerika menyelesaikan masalah tersebut.
"Kalau tidak bersama Amerika, maka ada alasan bagi Indonesia untuk berbisnis nikel dengan China," ujarnya, menjelaskan maksud dari tulisan Luhut yang dimuat Foreign Policy.
Namun menurut Rocky, justru di sinilah letak permasalahannya.
Di saat Amerika tak menunjukkan ketertarikan terhadap nikel Indonesia, China di sisi lain juga mengalami hambatan pertumbuhan ekonomi.
"Apakah kita bisa bertumbuh melalui industri nikel?," bebernya. "Kita dijepit ketidakpastian," imbuh Rocky Gerung.
Beberapa hari usai membaca tulisan Luhut, Rocky lantas membaca sebuah artikel mengenai pemerintah Amerika Serikat yang mensponsori riset energi terbarukan.
Energi yang dimaksud dalam artikel tersebut yakni sodium ion.
"Artinya, nikel itu akan tenggelam. Tidak akan ada yang pakai, tapi kita masih ngomong itu," kritiknya.
Bahkan, Rocky menambahkan, banyak negara lain yang telah mengembangkan riset mereka atas energi terbarukan selain sodium ion.
"Hidrogen, misalnya. Banyak negara yang mensponsori riset untuk itu," ujarnya.
Potret ini menandakan bahwa Indonesia relatif lemah dalam urusan riset energi terbarukan.
Menurut Rocky Gerung, penyebabnya hanya satu. Yakni kurangnya perhatian negara terhadap pendidikan dan riset.
"Berapa dana pemerintah yang diterima lembaga studi untuk melakukan riset?," tanya Rocky.
"Di sini, pembangunan infrastruktur mendahului pembangunan akal," tandasnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani