Jawa Pos Radar Madiun — Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, kembali menjadi menuai sorotan setelah menyatakan secara terbuka bahwa dirinya tidak tertarik melakukan pertemuan pribadi atau tertutup dengan Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Tiyo menegaskan bahwa ia khawatir realitas di lapangan tidak akan tersampaikan secara utuh jika komunikasi dilakukan dalam ruang privat.
Menolak Pertemuan Tertutup, Mengusulkan Dialog Terbuka
Dalam berbagai kesempatan, Tiyo menyampaikan bahwa kritik mahasiswa bukanlah persoalan personal antara dirinya dan Presiden.
Ia menilai isu-isu yang diperjuangkan mulai dari pendidikan, kesejahteraan sosial, hingga kebijakan publik adalah kepentingan rakyat luas.
Karena itu, menurutnya, dialog sebaiknya dilakukan secara terbuka agar publik dapat menyaksikan langsung proses pertukaran gagasan.
Baginya, transparansi bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari akuntabilitas demokrasi.
Kekhawatiran Soal Validitas Informasi
Tiyo juga mempertanyakan apakah informasi yang sampai ke Presiden sudah benar-benar merepresentasikan kondisi riil masyarakat.
Ia menyinggung kemungkinan adanya “filter” di lingkaran kekuasaan, di mana suara-suara kritis bisa saja tidak sepenuhnya tersampaikan.
Pernyataan ini sejatinya mengandung pesan yang lebih luas: pemimpin negara membutuhkan akses informasi yang beragam dan jujur agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.
Antara Etika Politik dan Ruang Demokrasi
Di satu sisi, pertemuan tertutup kerap dipahami sebagai bagian dari diplomasi politik yang wajar. Banyak persoalan memang lebih efektif dibahas dalam suasana tenang dan terbatas.
Namun di sisi lain, mahasiswa sebagai representasi gerakan moral kampus sering menempatkan keterbukaan sebagai prinsip utama.
Terlebih jika isu yang dibahas menyangkut kebijakan publik berskala nasional.
Dalam konteks ini, sikap Tiyo bisa dibaca sebagai upaya menjaga independensi dan konsistensi sikap.
Penolakan terhadap pertemuan tertutup bukan berarti menolak dialog. Justru sebaliknya, Tiyo mengisyaratkan keinginan agar komunikasi dilakukan dalam format yang lebih transparan dan partisipatif. (naz)
Editor : Mizan Ahsani