Jawa Pos Radar Ngawi – Realisasi penebusan pupuk bersubsidi di Kabupaten Ngawi hingga akhir Oktober 2025 masih tergolong rendah.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi, serapan pupuk oleh petani baru mencapai 59–63 persen dari total alokasi tahun ini.
Kabid Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan DKPP Ngawi Hendro Budi Suryawan menyebut, dari alokasi 43 ribu ton pupuk Urea, baru 25 ribu ton yang ditebus atau sekitar 59,54 persen.
Sedangkan pupuk NPK dari 29 ribu ton baru terserap 18 ribu ton (63,33 persen).
Untuk pupuk organik, realisasi baru 10 ribu ton dari total alokasi 19 ribu ton.
Sementara pupuk ZA tebu paling rendah, hanya 12 ton dari jatah 1.257 ton.
“Serapan pupuk tahun ini masih relatif rendah karena petani baru memasuki masa panen di musim tanam ketiga,” ujarnya, Senin (27/10).
Kondisi tersebut, lanjut Hendro, lazim terjadi akibat pola musiman.
Saat jeda antar tanam, kebutuhan pupuk menurun karena sebagian petani menunggu hasil panen.
Namun, dia optimistis serapan meningkat November mendatang ketika petani mulai kembali menanam.
“Menjelang tanam ketiga nanti penyerapan akan naik. Termasuk tambahan realokasi 100 ton pupuk NPK yang baru kami terima,” terangnya.
Meski serapan masih rendah, Hendro memastikan stok pupuk bersubsidi di Ngawi aman hingga akhir tahun.
Dengan tambahan realokasi dari pemerintah pusat, ketersediaan dinilai cukup memenuhi kebutuhan petani.
“Insyaallah kebutuhan pupuk bersubsidi di Ngawi aman sampai akhir tahun ini,” pungkasnya. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto