Jawa Pos Radar Madiun - Program Pengabdian Masyarakat (Abmas) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Departemen Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) selama hampir dua bulan di Ngawi resmi berakhir.
Penutupan berlangsung di Rumah Batik Enjang Pelangi, Desa Sambiroto, Kecamatan Padas, Jumat (21/11).
Kegiatan tersebut ditutup dengan serah terima instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang dirancang khusus untuk kebutuhan industri batik skala rumahan.
Penyerahan dilakukan langsung oleh Ketua Tim Abmas ITS, Dr. Hariyati Purwaningsih, S.Si., M.Si., yang memimpin riset sekaligus implementasi teknologi di lapangan.
“Program ini merupakan bagian dari pendanaan tahunan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, bekerja sama dengan CV Enjang Pelangi,” ujar Hariyati, Sabtu (22/11).
Fokus pada Limbah yang Mengandung Bahan Kimia Keras
Hariyati menjelaskan bahwa pemilihan Ngawi sebagai lokasi Abmas bukan tanpa alasan.
Selain dirinya merupakan putri daerah, riset yang tengah ia kembangkan berkaitan erat dengan persoalan limbah batik yang menjadi salah satu sumber pencemaran lingkungan.
Limbah batik memiliki dua sumber utama, sisa malam batik, dan limbah pewarna sintetis.
Pewarna sintetis dinilai ekonomis bagi UMKM, namun menyimpan bahaya jangka panjang.
Kandungan logam beratnya dapat mengendap di tanah atau mencemari air tanah dalam kurun 5–10 tahun.
“Jika dibiarkan, ekosistem sungai dan tanah akan rusak. Karena itu, kalau industri batik ingin berkembang, teknologi pengolahan limbahnya juga harus ikut berkembang,” tegasnya.
IPAL Dibangun dengan Tiga Tahap Pengolahan
IPAL yang dibangun ITS terdiri dari enam bak dengan tiga rangkaian proses utama:
1. Koagulasi
Tahap awal untuk mengendapkan zat berbahaya dan material berat lainnya.
2. Filtrasi
Penyaringan lanjutan menggunakan material aktif atau biopori untuk menyerap logam berat.
3. Photocatalysis
Proses inti menetralkan kandungan limbah menggunakan material katalis berbasis teknologi fotokatalitik untuk mencapai kualitas air dengan pH aman.
“Jika kadar pH sudah berada di angka 6–8, maka aman bagi lingkungan. Baik dibuang ke sungai maupun meresap ke tanah,” jelasnya.
IPAL yang didesain ITS bekerja dengan sistem sederhana agar mudah dioperasikan UMKM batik. Menurut Hariyati, teknik yang digunakan tidak terbatas bagi industri batik saja.
“Prinsip koagulasi dan filtrasi bisa diterapkan untuk limbah industri lain atau limbah rumah tangga. Bahkan bisa dipakai untuk satu perkampungan dengan IPAL terpadu,” tuturnya.
Dengan serah terima IPAL tersebut, ITS berharap industri batik di Ngawi dapat menjalankan produksi secara mandiri tanpa mengorbankan kualitas lingkungan.
“Harapan kami, teknologi ini menjadi awal agar industri batik di Ngawi tetap lestari dan ramah lingkungan,” pungkasnya. (sae/*)