12 Titik di Ngawi Krisis Air Bersih, Pemkab Tak Mau Asal Bikin Sumur Bor

Asep Syaeful • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:44 WIB
KEKERINGAN: Warga Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, mengambil bantuan air bersih beberapa hari lalu.
KEKERINGAN: Warga Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, mengambil bantuan air bersih beberapa hari lalu.

Jawa Pos Radar Madiun – Jeritan warga yang menjadi langganan krisis air bersih di Ngawi setiap musim kemarau direspons pemkab. Termasuk permintaan pembangunan sumur bor dari warga di Kecamatan Bringin.

Saat ini, pemkab mencatat terdapat 12 titik wilayah terdampak kekeringan.

Seluruhnya berada di kawasan cekungan dengan ketersediaan air sangat minim sehingga pembuatan sumur bor biasa dinilai tidak mudah.

Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko mengatakan, pencarian sumber air perlu dilakukan secara serius sebelum pengeboran.

Langkah itu diperlukan agar pembangunan infrastruktur tidak berujung sia-sia.

’’Agar, langkah penanganan benar-benar efektif dan presisi,’’ kata Antok, sapaan Wabup Ngawi, Jumat (28/8).

Pemkab telah menyusun skema penanganan kekeringan Ngawi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP), serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR).

Pemetaan wilayah terdampak kini tidak lagi menggunakan desa sebagai basis.

Pemkab mempersempit pemetaan hingga tingkat dusun agar bentuk intervensi dapat disesuaikan dengan kondisi geografis masing-masing wilayah.

’’Setelah evaluasi, pemetaan daerah kekeringan tidak lagi berbasis desa, tapi dusun, agar tepat sasaran sesuai kondisi geografis,’’ ujar Antok.

Pola intervensi dibagi menjadi dua kategori. Pertama, penanganan dari nol terhadap 11 dusun yang belum memiliki jaringan Pamsimas maupun perpipaan menuju rumah warga.

Untuk wilayah tersebut, penanganan harus diawali studi pencarian sumber air yang dinilai representatif. Pengeboran baru dilakukan setelah keberadaan sumber air dipastikan.

Kategori kedua menyasar dusun yang sebenarnya sudah memiliki infrastruktur Pamsimas, tetapi mengalami penurunan debit secara drastis ketika musim kemarau.

’’Penanganannya difokuskan pada manipulasi teknis, perluasan pipanisasi, hingga pencarian sumber penguat agar pasokan air tetap mengalir ke rumah warga,’’ terangnya.

Antok mengatakan, sinergi antara pemerintah desa, pengelola Pamsimas, dan DPRKP bakal terus diperkuat.

Pendekatan berbasis riset geologi dan pencarian sumber air diharapkan menghasilkan solusi jangka panjang.

Dengan begitu, sumur bor di Bringin maupun intervensi lain yang dilakukan nantinya benar-benar mampu menjawab persoalan sesuai karakteristik wilayah.

’’Sehingga warga di 12 titik rawan tersebut tidak lagi menjadi langganan krisis air bersih setiap musim kemarau,’’ ujar Antok.

Sebelumnya, warga Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, mengeluhkan sulitnya memenuhi kebutuhan air bersih.

Mereka berharap pembangunan sumur bor dapat menjadi solusi jangka panjang atas persoalan yang berulang setiap musim kemarau. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
krisis air bersih di Ngawi penanganan kekeringan Ngawi jaringan Pamsimas sumur bor di Bringin