PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Ancaman bencana di Pacitan menggeser kebijakan sektor pendidikan. Dinas pendidikan (dindik) setempat melonggarkan kegiatan belajar mengajar (KBM). Lembaga pendidikan diminta mandiri menentukan skema pembelajaran.
‘’Pembelajaran yang fleksibel itu orientasinya keselamatan siswa,’’ kata Kepala Dindik Pacitan Budiyanto, Selasa (25/10).
Budi, sapaan Budiyanto, mengungkapkan sekolah boleh menerapkan dua skema pembelajaran. Antara pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan pembelajaran tatap muka (PTM). Pun, kombinasi antara PJJ dengan PTM sesuai situasi dan kondisi.
Pemberian otoritas penuh kepada sekolah itu tak lepas dari cuaca ekstrem di Pacitan belakangan ini. ‘’Sekolah bisa memutuskan sendiri skema pembelajaran yang terbaik,’’ ujarnya.
Tanah longsor dan hujan lebat kerap melanda Pacitan. Kondisi itu mengancam keselamatan siswa serta sarana dan prasarana sekolah. Tak terkecuali, akses menuju sekolah yang rusak akibat bencana. Seperti, kerusakan jembatan di Wonodadi Kulon, Ngadirojo. Yang mana, siswa dan guru di beberapa lembaga pendidikan di daerah itu kesulitan datang ke sekolah.
Pembelajaran terpaksa daring. ‘’Sudah kami sampaikan surat edaran terkait cuaca buruk ini agar sekolah tetap berhati-hati,’’ ungkap Budi.
Disinggung soal sekolah rusak karena bencana, Budi mengamini beberapa laporan sudah masuk ke dindik. Baik kerusakan ringan seperti atap bocor maupun talut jalan sekolah longsor. ‘’Talut jalan di SMPN 2 Bandar rusak tergerus air. Untuk sekolah yang lain masih kami data,’’ pungkasnya. (gen/den)
Editor : Hengky Ristanto