PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Balai rukun tetangga (RT) di sisi masjid itu menjadi titik kumpul emak-emak beragam usia untuk arisan beras.
Setiap awal bulan, puluhan perempuan dari beberapa lingkungan di Desa Jetak, Tulakan, berbondong-bondong membawa beras. Salah satu di antaranya Sinto.
Nenek berusia 70 tahun itu menjinjing ember berisi dua kilogram beras. Itu sesuai kesepakatan setiap peserta arisan.
Petugas lantas mencatatnya dan menimbangnya sebelum beras setoran peserta dijadikan dalam satu wadah. Usai proses pendaftaran, peserta lantas menunggu pengundian.
Untuk mengisi waktu, mereka berbincang tentang kehidupan sehari-hari. Canda tawa mewarnai obrolan mereka sembari menunggu peserta lain komplet.
‘’Nyuwun kawigatosanipun nggih. Artisan enggal dipunwiwiti (Mohon perhatian ya. Arisan segera dimulai),’’ kata petugas arisan, Jumat (6/10).
Setelah pengundian, raut muka Sinto semringah. Sebab, dialah salah satu pemenang arisan yang berhak membawa pulang beras 31 kilogram.
Setiap putaran arisan diambil dua pemenang. ‘’Ya senanglah. Alhamdulillah. Pas beras mahal, dapat rezeki sebanyak ini. Bisa untuk bertahan beberapa bulan,’’ ucap Sinto girang.
Tradisi arisan beras sudah berlangsung lama di desa ini. Bahkan, turun temurun kebiasaan itu dijadikan sarana berkumpul.
Menjalin silaturahim antarwarga menjadi alasan kebersamaan di desa kawasan tepi Samudera Indonesia itu tetap terjaga.
‘’Pokoknya selama ndak ada kepentingan lain saya usahakan datang,’’ kata Seni, perempuan lain yang juga beruntung membawa pulang beras.
Menurut Seni, perubahan zaman memang membawa dampak. Salah satunya intensitas kebiasaan berkumpul yang kian menurun.
Itu diduga terjadi seiring pemanfaatan gawai sebagai sarana komunikasi. Di sisi lain dia bersyukur, warga desanya tetap mempertahankan arisan beras. Itu wujud kearifan lokal sekaligus bentuk nilai kekerabatan.
‘’Pokoknya jangan sampai punah atau hilang,’’ harapnya, sembari menyebut arisan beras bisa menjadi solusi saat harga beras mahal seperti saat ini. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani