Jawa Pos Radar Pacitan – Tradisi larung buceng suci dan tumpeng kembali menjadi bagian penting dalam peringatan Tahun Baru Jawa dan Tahun Baru Islam di Pacitan.
Senin siang (15/6), para nelayan mengarak sesaji menuju tengah laut sebagai wujud syukur sekaligus doa untuk keselamatan dan keberkahan hasil tangkapan.
Prosesi tersebut menjadi rangkaian utama Festival Nelayan Pacitan yang rutin digelar masyarakat pesisir setiap memasuki bulan Suro.
Puluhan nelayan terlibat langsung dalam pelaksanaan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
Ketua Panitia Festival Nelayan Pacitan Suratno mengatakan, larung buceng suci bukan sekadar seremoni tahunan.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya menjaga identitas budaya masyarakat pesisir yang telah mengakar sejak lama.
“Seluruh nelayan berpartisipasi dan menyumbangkan tenaga maupun pikiran untuk mengangkat budaya yang ada di Pacitan, khususnya budaya masyarakat perikanan dan nelayan,” ujarnya.
Menurut Suratno, masyarakat pesisir memaknai pergantian tahun baru Islam sebagai momentum penting untuk mempererat kebersamaan antarwarga sekaligus memperkuat hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Tradisi tersebut juga menjadi bentuk ungkapan rasa syukur atas hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat nelayan Pacitan.
“Mudah-mudahan nelayan Pacitan mendapatkan rezeki yang melimpah,” ungkapnya.
Setelah prosesi larung selesai, kapal-kapal nelayan kembali bersandar di dermaga.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni budaya yang digelar di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tamperan.
Malam harinya, suasana semakin meriah dengan kegiatan bakar ikan bersama yang melibatkan masyarakat, nelayan, serta para pengunjung.
Kegiatan tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus penutup rangkaian Festival Nelayan Pacitan tahun ini. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto