Jawa Pos Radar Madiun - Penggunaan media sosial yang berlebihan pada anak dapat memicu ketergantungan hingga berdampak pada emosi yang tidak stabil.
Bahkan, tidak jarang anak menunjukkan ledakan amarah ketika akses terhadap gadget dibatasi.
Psikolog Eka Renny Yustisia menjelaskan, kondisi ini terjadi karena otak anak terbiasa menerima rangsangan cepat dari konten digital.
Baca Juga: Rekomendasi Sepeda untuk Berangkat Kerja: Solusi Hemat di Tengah Ancaman Krisis BBM
Paparan yang terus-menerus membuat anak bergantung pada rasa senang instan yang dihasilkan.
“Paparan konten digital secara terus-menerus membuat otak anak terbiasa dengan lonjakan cepat hormon kesenangan dari aktivitas stimulasi tinggi seperti media sosial (dopamin instan),” ujarnya di Jambi, Senin.
Ketika penggunaan gadget dihentikan secara tiba-tiba, respons anak bisa menyerupai gejala “putus kebiasaan”.
Baca Juga: Realme C Series Rp 1 Jutaan, HP Berkualitas Cocok Buat Pelajar Budget Terbatas
Reaksi yang muncul antara lain marah, menangis, hingga sulit dikendalikan.
Karena itu, Eka menyarankan orang tua tidak langsung melarang secara keras.
Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan memahami emosi anak, sambil tetap memberikan batasan yang jelas.
Baca Juga: 110 Ribu Penerima di Madiun Dapat Bapang, Penyaluran Ditarget Rampung Akhir April
“Kami menyarankan orang tua untuk memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilaku. Tunjukkan empati agar sistem emosinya perlahan menjadi lebih tenang,” jelasnya.
Selain itu, orang tua dapat menerapkan teknik transisi, misalnya dengan memberikan batas waktu sebelum anak berhenti menggunakan gawai.
Cara ini dinilai membantu anak beradaptasi tanpa merasa “diputus” secara mendadak.
Baca Juga: MacBook Pro 14 M1 Pro vs MacBook Air M4: Pilih Tenaga "Badak" atau Efisiensi Masa Depan?
Eka juga menekankan pentingnya membuat aturan penggunaan gadget yang disepakati bersama dalam keluarga.
Termasuk di dalamnya waktu tanpa layar yang dijalankan oleh semua anggota keluarga agar anak memiliki contoh yang konsisten.
Di sisi lain, anak perlu diarahkan pada aktivitas alternatif yang lebih aktif, baik secara fisik maupun sosial, untuk mengurangi ketergantungan terhadap layar.
Baca Juga: Tingginya Gula dan Kolagen Berpengaruh Terhadap Kecantikan, Mitos atau Fakta? Cek di Sini!
Pengawasan terhadap konten yang dikonsumsi juga penting agar tidak memicu overstimulasi.
“Konsistensi dalam pola asuh menjadi kunci untuk membentuk kebiasaan digital yang lebih sehat,” katanya.
Sementara itu, salah satu orang tua, Dewi, memilih mengalihkan perhatian anak melalui kegiatan olahraga panahan.
Baca Juga: 110 Ribu Penerima di Madiun Dapat Bapang, Penyaluran Ditarget Rampung Akhir April
Selain mengurangi waktu bermain gadget, aktivitas tersebut juga membantu anak melatih fokus dan kesabaran.
Dengan pendekatan yang tepat dan konsisten, orang tua dapat membantu anak mengelola emosi sekaligus membentuk kebiasaan penggunaan media sosial yang lebih sehat.
Editor : Nur Wachid