Belajar dari Lakon Khandawa Daha, Kritik Pedas Wayang Terhadap Tragedi Karhutla

Ki Damar • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 17:28 WIB
ilustrasi kebakaran. (Antara)
ilustrasi kebakaran. (Antara)

Jawa Pos Radar Madiun - Jika kita membaca lakon pewayangan Khandawa Daha murni sebagai cerita fiksi dewa dewa, kita tentu akan gagal menangkap pesan besarnya.

Lakon ini sejatinya adalah kritik paling tajam terhadap keserakahan manusia yang tega membakar hutan demi kepentingan sesaat.

Ada benang merah yang sangat kuat antara lakon Alas Khandawa Obong dengan tragedi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang kerap terjadi di Indonesia saat ini.

Pertama, kritik terhadap dalih "demi kebaikan".

Dalam lakon, Agni membakar hutan dengan alasan sakit dan butuh obat. Hal ini persis dengan dalih pembakaran hutan hari ini, yakni demi membuka lahan sawit, memutar roda ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja.

Alasannya selalu dibungkus dengan narasi yang mulia. Tetapi pertanyaannya, apakah keuntungan segelintir korporasi harus dibayar dengan kabut asap yang membuat jutaan anak di Sumatera dan Kalimantan sesak napas?

Kedua, kritik terhadap ksatria yang diam dan turut membantu.

Hal paling menyakitkan dalam lakon ini bukanlah sosok Agni, melainkan keterlibatan Arjuna dan Kresna.

Mereka adalah tokoh simbol kebaikan dan keadilan. Namun, dalam lakon ini mereka justru menjadi algojo penjaga api. Mereka mencegah hujan turun dan menghalangi satwa melarikan diri.

Baca Juga: Wayang dan Karhutla: Lakon Alas Khandawa Obong Jadi Pengingat Hutan Dibakar karena Keserakahan

Ini adalah tamparan keras bagi para pejabat, ilmuwan, dan aparat masa kini yang seharusnya menjaga kelestarian hutan.

Banyak pihak yang tahu bahwa hutan sengaja dibakar, tapi mereka diam karena terikat perintah, lobi proyek, hingga suap korporasi.

Kejahatan terbesar bukan hanya dilakukan oleh pembakar, tapi juga oleh orang baik yang membiarkan api itu menyala.

Ketiga, ironi hadiah setelah kehancuran alam.

Setelah hutan habis, Arjuna diberi hadiah senjata sakti Gandiva. Sama seperti hari ini, setelah hutan musnah dibakar, aktor utamanya kerap tidak dihukum berat.

Mereka justru mendapat keuntungan berlipat ganda berupa lahan murah, panen melimpah, dan kemudahan izin baru.

Sementara itu, rakyat kecil yang tidak ikut membakar justru harus menanggung bencana kabut asap, banjir bandang, dan hilangnya kesuburan tanah.

Keempat, manusia kerap lupa akan nilai ekosistem.

Hutan Khandawa digambarkan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan rumah bagi seluruh sistem kehidupan.

Wayang telah mengajarkan konsep ekosistem sejak ribuan tahun lalu. Hutan bukanlah lahan kosong yang bisa dieksploitasi seenaknya.

Pesan leluhur untuk bangsa Indonesia hari ini sangatlah jelas. Jangan ulangi tragedi Khandawa Daha dengan versi Karhutla di dunia nyata.

Kita tidak boleh menjelma menjadi Agni yang rakus dan membakar bumi demi memperkaya diri sendiri.

Kita juga tidak boleh menjadi Arjuna yang tampak gagah namun mau disuruh menjaga kelanggengan kejahatan.

Generasi masa kini harus berani bersuara lantang. Berhenti merusak alam, jangan beli produk hasil bakaran lahan, dan jangan pernah diam saat paru paru dunia kita dibakar hancur! (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
pembakaran hutan Lakon wayang karhutla kebakaran hutan wayang