PONOROGO - Siapa sangka di sekitaran kompleks Masjid Tegalsari, Jetis yang mahsyur terdapat masjid tua. Masjid Baiturohman atau yang sering disebut Masjid Setono. Konon, masjid itu telah didirikan sekitar abad 17.
Masjid Setono terletak di sebuah gang kecil. Dari Pasar Sapi di Jetis, belok ke timur. Tepatnya gang di utara bangunan kantor bank milik negara di timur jalan. Sekilas, bangunannya tidak terlampau luas. Namun, cukup menampung jamaah dalam jumlah besar.
Konon, masjid kuno itu memiliki garis historis dengan Masjid Tegalsari, Jetis. Di dalamnya terdapat delapan tiang penyangga atap. Empat soko guru utama merupakan tiang yang belum pernah diganti. Sementara empat tiang di pinggir telah diganti saat renovasi. Sejarah panjang itu hanya diturunkan secara lisan. ‘’Panjang ceritanya. Dulu, masjid ini tidak seperti ini,’’ kata Sudrajat, takmir.
Sudrajat tidak tahu persis kapan masjid itu berdiri. Konon, masjid tua itu berdiri sekitar abad ke 17. Didirikan oleh Mbah Donopuro yang merupakan imigran dari Sembayat, Mataram, Jawa Tengah. Mbah Donopuro bersama keluarga bangsawan melarikan diri selepas Semarang jatuh ke tangan VOC, 1619 silam. Sesampainya di Setono, Tegalsari, Jetis mendirikan masjid dan pesantren. Bangunan awal hanya berdinding gedek. Mbah Donopuro dikenal sebagai kiai yang memiliki spiritualitas tinggi. ‘’Dulu disegani, menjadi panutan warga setempat,’’ lanjutnya.
Kharisma Mbah Donopuro mengundang perhatian warga. Pun, mengundang santri dari berbagai daerah untuk mendalami ilmu agama di pesantren setempat. Salah satu santri yang kemudian menjadi tokoh besar adalah Kiai Anom Besari, Kuncen, Caruban. Bahkan, Kiai Anom Besari merupakan santri kesayangan. Sehingga Mbah Donopuro menikahkan dengan keponakannya. Yang tak lain adalah putri dari pernikahan adiknya dengan Ki Ageng Mantub, Ngasinan, Jetis. Dari hasil perkawinan itulah, terlahir Ki Ageng Muhammad Besari. Hingga turun ke putra-putranya dan lahirlah Pesantren Gebang Tinatar yang berjaya di masanya. ‘’Karena Kiai Anom Besari merupakan murid kesayangannya,’’ ungkapnya.
Orang-orang sekitar lebih familiar dengan sebutan Masjid Setono. Sejak dulu, tidak ada plakat yang bertuliskan nama masjid. Hanya, sekitar 1982, Sudrajat yang didapuk menjadi takmir memberikan nama Baiturrohman. Masjid itu juga telah mengalami berbagai renovasi. Renovasi pertama dilakukan sekitar tahun 1924 sesuai petunjuk di prasasti. Renovasi pertama itu merombak fondasi menjadi lebih tinggi. Sekaligus mengubah dinding yang semula anyaman bambu menjadi batu bata. Renovasi itu tidak mengubah bentuk masjid. ‘’Tidak ada yang diubah hanya ditinggikan dan ditembok,’’ sambungnya.
Renovasi kedua dilakukan sekitar 1992. Prosesnya dilakukan secara besar-besaran sebab kontruksi atapnya sudah mulai lapuk. Selain kayu atap, kusen jendela turut diganti. Termasuk empat tiang pinggir di dalam masjid yang juga lapuk. Tetapi, empat tiang utama masih utuh seperti semula. Renovasi ketiga dilakukan sekitar 2007. Mengganti lantai yang semula hanya plesteran semen menjadi tegel. Seluruh renovasi tidak mengubah keaslian bangunan. *** (nur wachid/fin)
Editor : Administrator