PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Sebanyak 1.822 guru tidak tetap (GTT) berebut formasi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Pun, harus melewati tes yang menganut passing grade (nilai minimal) tinggi jika ingin lolos. ‘’Formasi tahun ini 1.713 PPPK,’’ kata Ruskamto, wakil ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ponorogo, Kamis (21/10).
Jika passing grade benar-benar diterapkan, menurut Ruskamto, tak lebih dari 30 persen jumlah GTT yang lolos. Pihaknya tidak tinggal diam hingga sengaja mengajukan nilai fakta setiap GTT ke pemerintah pusat. Pengumuman tes PPPK khusus guru sempat ditunda dua kali. Dari hasil pengumuman 8 Oktober lalu, ada 962 GTT di Ponorogo yang akhirnya dinyatakan lolos. ‘’Persentasenya separo lebih,’’ ujarnya.
Persoalan muncul lagi. Sebanyak 117 dari 962 yang lulus tes PPPK itu belum mendapatkan tempat mengajar. Kendati pemerintah pusat sudah menunjuk sekolah tempat mereka bertugas. Faktanya, sekolah bersangkutan sedang tidak membutuhkan tenaga guru. Namun, Ruskamto meyakini masih banyak sekolah yang kekurangan tenaga pengajar. ‘’Menggantikan guru yang purnatugas. Sekolah-sekolah di pinggiran juga banyak yang membutuhkan guru,’’ terangnya.
Celakanya, sekolah yang malah membutuhkan tenaga guru itu tidak terdaftar dalam formasi PPPK. Selama ini, data sekolah yang kekurangan guru tidak sinkron dengan kondisi di lapangan. PGRI berharap data kebutuhan tenaga pengajar itu segera diperbaiki. Lewat seleksi gelombang selanjutnya, 751 formasi PPPK yang tersisa dapat terisi para GTT. ‘’Peserta yang belum lolos dapat mengikuti tes selanjutnya,’’ ungkapnya. (mg7/c1/hw)
Editor : Administrator