Boleh dibilang, Tetenger merupakan pameran seumur hidup. Setiaris Space Art mendatangkan seniman tiga kota untuk seni rupa ke masyarakat setempat. ‘’Kami pilih mural karena itu senirupa paling populer untuk publik,’’ tegasnya.
Proses kreatif bersama warga diwujudkan mulai hal sederhana seperti mengecat tembok rumah yang berhimpitan dengan gang, hingga gotong-royong pembuatan panggung sebagai pusat acara. ‘’Tetenger artinya penanda bahwa seni harus cair, adaptif, bisa membumi dan membaur dengan masyarakat,’’ ujarnya.
Kurator kelahiran Ponorogo yang menetap di Jogjakarta itu menambahkan, mural yang diusung tidak jauh dari objek di sekitar Gang Gayam. Juga, kental dengan ciri khas Kelurahan Tonatan seperti Emping Melinjo yang banyak diproduksi di sana. ‘’Kami memulai pendekatan seni dengan mengembangkan potensi di wilayah ini,’’ tegasnya.
Komunitas Geger Boyo dari Jogjakarta mengusung mural bertajuk Tirto Panguripan. Mereka menyulap blandong (sumur dan kamar mandi) di tepi gang menjadi tampak artistik. Blandong itu penuh gambar mural dengan unsur kompleksitas yang diusung. Mulai komik, dekorasi, ilustratif, hingga kontemporer.
‘’Sumur kami poles dengan berbagai gambar objek temuan kami di sekitar Gang Gayam ini,’’ kata Prihatmoko Moki, seniman dari Geger Boyo Jogjakarta.
Mural itu menggambarkan sekelompok orang yang tengah menumbuk melinjo menjadi emping. Di sampingnya, terdapat Pohon Gayam yang menjadi kearifan sekaligus cerita lisan tentang asal mula Gang Gayam.
Kompleksitas mural itu seolah menjadi etalase kearifan lokal di Kelurahan Tonatan. ‘’Kami berkarya dari sudut pandang sejarah. Ketika ke Jepang, kami juga berkarya seputar Jepang-Indonesia,’’ imbuh NK. Khomariah, seniman lain dari Geger Boyo Jogjakarta.
Geger Boyo Jogjakarta turut membawa serta dua seniman lainnya. Yakni Anjali Nayenggita, dan Vendy Methodos. Mereka berharap mural yang diusung bisa menjadi fragmen situs di wilayah setempat. ‘’Kami tertantang beradaptasi dan negosiasi dengan publik,’’ tambah Vendy. (kid/fin) Editor : Hengky Ristanto