PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Petani tembakau di Desa Tatung, Balong, Ponorogo, dibayangi kekhawatiran gagal panen.
Ancaman kerugian petani tembakau itu ada di depan mata, seiring musim hujan yang dirasakan warga Ponorogo.
Bahkan, hujan deras yang mengguyur beberapa hari belakangan menyebabkan lahan tanaman tembakau mereka tergenang banjir.
Sunyoto, petani tembakau, mengungkapkan hektaran tanamannya kini berubah menguning, layu dan rusak.
Guyuran hujan membuat genangan air setinggi mata kaki hingga tak kunjung surut beberapa hari terakhir.
"Zonk semua rusak, tadinya hijau bagus-bagus daunnya besar sekarang menguning semua dan layu,’’ kata Sunyoto.
Sunyoto menaksir sekali panen dia mampu meraup Rp 20 juta. Baru dua kali dipanen, kini dia berharap itung-itungan balik modal bisa dicapainya dari sisa tembakau yang layu tersebut.
Dia terpaksa memanen seluruh tanaman tembakau, selanjutnya dikeringkan dan diolah.
"Seharusnya bisa dapat 6-8 kali panen, tapi ini dapat tiga juga saja sulit karena sudah rusak semua,’’ ungkapnya.
Apa yang dialami petani tembakau itu diamini Kepala Desa Tatung Rudi Sugiarto.
Ia mengungkapkan, setengah dari total lahan seluas 120 hektare tanaman tembakau rusak dan terancam gagal panen akibat hujan deras beberapa hari terakhir.
Dia menaksir kerugian yang dialami petani tembakau di deanya mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
"Karena sudah rusak, jadi dipanen sebelum waktunya. Pengeringan juga sulit di musim hujan ini, pakai alat kapasitasnya terbatas,’’ ujarnya.
Rudi memastikan tembakau tersebut tak lagi bisa diselamatkan. Mau tak mau, para petani pasrah, sembari bersiap mengolah kembali lahan pertanian untuk musim selanjutnya.
"Yang rusak ini mayoritas tanamnya belakangan, jadi belum waktunya dipanen terpaksa dipanen,’’ tandasnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya