Jawa Pos Radar Ponorogo – Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2026/2027 di SDN Nailan, Kecamatan Slahung, berlangsung tanpa kehadiran peserta didik baru.
Untuk dua tahun berturut-turut, sekolah tersebut kembali tidak memperoleh satu pun pendaftar.
Akibatnya, ruang kelas I dan II kosong tanpa aktivitas belajar.
Saat ini, SDN Nailan hanya memiliki 13 siswa yang tersebar di kelas III hingga VI.
Kepala Desa Nailan Nurhadi mengatakan, jumlah peserta didik terus menyusut dari tahun ke tahun.
Rinciannya, tujuh siswa berada di kelas VI, dua siswa kelas V, satu siswa kelas IV, dan tiga siswa kelas III.
"Tahun ini juga kosong, tidak ada pendaftar siswa baru. Tinggal kelas III sampai VI saja," ujarnya.
Menurut Nurhadi, salah satu penyebab utama adalah tingginya persaingan dengan sekolah lain di sekitar desa.
Banyak orang tua memilih menyekolahkan anak ke madrasah atau sekolah yang menawarkan pendidikan berbasis agama.
"Di sekitar sini ada MIN, sekolah dasar Gontor, Ar Risalah, kemudian ada juga sekolah di Desa Gundik dan Singkil. Pilihan masyarakat memang cukup banyak," katanya.
Selain itu, jumlah anak usia sekolah dasar di Desa Nailan juga terus menurun.
Dari sekitar 1.400 penduduk, setiap tahun hanya terdapat sekitar enam hingga tujuh anak yang memasuki usia sekolah dasar.
"Kami petakan jumlah anak usia masuk sekolah SD, memang menurun tiap tahun," jelasnya.
Pemerintah desa bersama pihak sekolah telah berupaya mempertahankan keberadaan SDN Nailan melalui sosialisasi ke kelompok bermain (playgroup) dan taman kanak-kanak (TK), termasuk berdialog dengan para orang tua.
Namun, upaya tersebut belum mampu meningkatkan minat masyarakat.
"Saat kami berdialog dengan wali murid, kebanyakan memang ingin anaknya masuk MIN atau sekolah berbasis agama," pungkas Nurhadi. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto