
Jawa Pos Radar Madiun – Kemarau membuat sekitar 20 kepala keluarga (KK) di Dusun Klisat, Desa Tambakrejo, Kecamatan Pacitan, kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Sumur bor yang sebelumnya dibangun pemerintah desa kini tak lagi mengeluarkan air.
Kondisi tersebut membuat warga bergantung pada dropping air bersih dari pemerintah maupun relawan.
Jika bantuan terlambat datang, mereka terpaksa membeli air dengan biaya yang tidak sedikit.
Setiap truk tangki tiba, warga membawa jeriken dan ember untuk mengambil air.
Sebagian pasokan ditampung di bak penampungan di sekitar masjid sebelum digunakan bersama.
Sunarti, salah seorang warga, mengatakan krisis air Pacitan di wilayahnya hampir selalu berulang ketika musim kemarau.
Letak permukiman di kawasan perbukitan ditambah sumber mata air yang berada cukup dalam membuat warga kesulitan mendapatkan pasokan.
Ketika dropping air bersih belum datang dan persediaan menipis, membeli air menjadi pilihan terakhir.
Untuk mendapatkan 3.000 liter, warga harus mengeluarkan sekitar Rp225 ribu.



