Para pedagang tidak punya pilihan. Sebab mereka mengambil dari distribusi dengan harga melambung. Mau tidak mau mereka harus menjual di atas HET. Keuntungan yang didapatkan mepet. ‘’Harga dari distributor sudah mepet, pasokan minim sekali. Mau tidak mau kami jual di atas HET,’’ kata Syamsudin, pedagang setempat.
Pasokan Minyakita juga langka. Normalnya, Syamsudin mendapat pasokan 100 karton per hari. Kini, dia hanya dapat separohnya. Itu pun tidak ajeg setiap hari. ‘’Kalau minyak merek lain masih normal, tapi harganya di atas Minyakita mulai Rp 18.000-23.000,’’ ujarnya.
Hal senada dikeluhkan Gemi Astuti, pedagang lain. Dalam sebulan belakangan dia hanya mendapat pasokan 300 karton. Biasanya, dia menerima dua kali lipat. Sedangkan, antusias masyarakat berburu Minyakita lumayan tinggi. ‘’Sehari jual 50 karton, banyak yang cari,’’ ujar Astuti.
Seorang pembeli, Sumiati mengaku pilih Minyakita lantaran harganya lebih terjangkau dibanding merek lain. Meski saat ini harganya lebih tinggi dibanding HET yang tertera dalam kemasan. ‘’Di kemasan tulisannya Rp 14.000 tapi ternyata harganya lebih tinggi. Mau gimana lagi,’’ keluhnya. (kid/fin) Editor : Hengky Ristanto