BATARA Guru mengakui kesalahannya dan berjanji akan membebaskan Bima yang telah masuk kawah candradimuka.
Dia lalu menuju ke kawah suci tersebut dengan Narada.
"Kawah, ketika Batara Guru dan Narada masuk, maka jadilah panas. Dan kepada ndara saya, Bima, jangan kau siksa panasmu padanya!" kata Semar kepada kawah.
Kawah seketika menjadi panas ketika Batara Guru masuk.
Di dalam kawah itu, Bima kemudian bertemu dengan ayahnya, Pandu dan Dewi Madrim.
Selang beberapa waktu, Arjuna, Nakula dan Sadewa datang dan ikut bertemu dengan orang tuanya.
Pandu menuturi anak-anaknya untuk selalu sabar dalam menerima cobaan.
Karena di setiap cobaan, pasti ada kemuliaan.
Batara Guru dan Narada lantas menemui Bima dan saudaranya. Ia mengakui kesalahannya dan meminta tolong agar raksasa di kahyangan untuk dibereskan.
Bima berkata, "aku akan menolongmu tapi dengan syarat Pandu, bapakku, dan Madrim, ibuku, diangkat ke surga dan dihindarkan dari siksa api jahanam ini," ujarnya.
Batara Guru lalu meminta pertimbangan Batara Narada sebagai penasehat dewa.
"Turuti saja pukulun, bila tidak maka kahyangan akan hancur," kata Narada.
Batara Guru akhirnya setuju.
Ia lalu mengangkat Pandu dan Madrim naik ke surga.
Bima berterimakasih pada Batara Guru dan Batara Narada yang telah mengangkat orang tua mereka masuk ke surga.
Ia kalu keluar dan menemui raksasa kembar, si Dewa Amral dan Amral Dewa.
Melihat raksasa-raksasa itu, Bima merasa mengenali mereka.
"Sudah selesai semuanya, maka berubahlah kalian. Apakah kalian tidak malu memakai busana seperti itu, ingatlah kalian ini pemimpin negara," tutur Bima.
Tiba-tiba, Dewa Amral berubah menjadi Prabu Puntadewa dan Amral Dewa menjadi Prabu Kresna.
Mereka semua kemudian kembali ke Amarta dengan damai dan tenang. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani