Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kumbayana dan Sumpah di Tepi Laut Bagian 4: Pilihan Para Dewa

Ki Damar • Selasa, 9 Juni 2026 | 16:48 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Kumbayana. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Kumbayana. (RADAR MADIUN)

Oleh: Ki Damar*

Wujud kuda putih itu berganti menjadi seorang perempuan yang sangat cantik. Kumbayana terpaku. Seumur hidupnya, ia belum pernah melihat kecantikan seperti itu.

Perempuan itu tersenyum. "Jangan takut, Kumbayana." Suaranya persis sama dengan suara yang didengarnya di tengah laut tadi.

"Kau..." Kumbayana nyaris tak mampu berbicara. "Siapa engkau?"

Perempuan itu menunduk anggun, "Aku adalah Dewi Wilutama."

"Dewi Wilutama?" ulang Kumbayana.

"Ya, benar. Kenapa? Apakah ada yang salah?"

"Jadi... selama ini engkau adalah kuda itu?"

Dewi Wilutama tersenyum, "Itu hanyalah wujud yang diberikan oleh para dewa."

Baca Juga: Menanti Taji Garuda Lawan Mozambik, Momentum John Herdman Uji Kedalaman Skuad

Kumbayana masih belum memercayainya, "Tapi mengapa?"

Dewi Wilutama memandang ke arah langit yang kala itu tampak begitu indah, berhiaskan bintang-bintang yang bertaburan.

"Aku diperintahkan turun ke dunia untuk menguji ketulusan hati manusia."

"Dan aku yang diuji?" tanya Kumbayana.

"Benar."

Kumbayana terdiam. Dewi Wilutama kemudian melanjutkan ceritanya tentang alasan mengapa ia harus turun ke bumi untuk menguji kesatria muda itu.

"Banyak manusia mudah mengucapkan janji ketika mereka sedang putus asa," ujar sang dewi, "tetapi sangat sedikit yang mau menepatinya."

Kumbayana menunduk dengan perasaan bersalah. "Aku memang sempat ingin lari dari sumpahku," kata Kumbayana malu.

"Itu hal yang manusiawi," kata Wilutama sambil menatap sejuk ke arah Kumbayana.

"Tetapi aku tidak akan mengingkarinya!" tegas sang putra Prabu Baratwaja dari Negara Atas Angin itu.

Dewi Wilutama tersenyum lembut, "Itulah sebabnya para dewa memilihmu."

"Memilihku?" (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#kumbayana #cerpen #wayang