Jawa Pos Radar Madiun - Dalam dinamika perkantoran di Indonesia, ada satu "aturan tak tertulis" yang kerap menjadi hambatan tak kasatmata: budaya "gak enakan" atau dalam kosa kata sosiologis Jawa dikenal dengan istilah ewuh pakewuh. Kultur yang mendewakan keharmonisan komunal ini sering kali membuat seorang karyawan merasa sungkan, segan, atau takut menyinggung perasaan ketika harus menegur rekan kerja yang underperform maupun atasan yang melakukan kekeliruan.
Baca Juga: Awas Pori-Pori Tersumbat! Ini Penyebab Jerawat Punggung dan Cara Mengatasinya
Secara sosial, menjaga keharmonisan memang nilai yang luhur. Namun, jika budaya gak enakan ini dibawa secara mentah-mentah ke ranah profesional, dampaknya justru destruktif. Demi menghindari konflik terbuka, kesalahan operasional sering kali disapu ke bawah karpet, target divisi meleset, dan yang paling parah, munculnya sikap pasif-agresif atau saling sindir di belakang. Pada akhirnya, kultur ini mematikan objektivitas dan menghambat laju kemajuan perusahaan.
Untuk memutus rantai toxic dari budaya gak enakan ini, setiap pekerja profesional dituntut untuk mulai menguasai dan mempraktikkan komunikasi asertif. Asertif bukanlah bersikap agresif atau kasar, melainkan kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur serta lugas, tanpa menginjak-injak hak atau harga diri lawan bicara.
Berikut adalah beberapa strategi melatih komunikasi asertif di tempat kerja:
1. Pisahkan Antara Subjek dan Objek Pekerjaan Langkah pertama untuk menghilangkan rasa sungkan adalah mengubah mindset. Sadarilah bahwa kritik yang Anda sampaikan ditujukan pada "hasil pekerjaan" (objek), bukan menyerang "karakter personal" (subjek). Dengan memisahkan kedua hal ini, teguran yang disampaikan akan terasa lebih objektif dan rasional.
2. Gunakan Sudut Pandang "Saya" (I-Message) Saat menegur rekan kerja, hindari kalimat yang terkesan menuduh seperti, "Kamu selalu telat mengirim laporan." Kalimat ini akan memicu sikap defensif. Ubahlah menggunakan I-Message yang fokus pada dampak kerja, misalnya, "Saya kesulitan menyelesaikan analisis data tepat waktu karena draf laporan dari tim Anda belum saya terima. Bagaimana kita bisa mempercepat alurnya ke depan?"
3. Terapkan Teknik Sandwich Method Bagi Anda yang masih sangat kental dengan budaya sungkan, teknik sandwich bisa menjadi jembatan transisi. Mulailah teguran dengan apresiasi atau pujian yang tulus (roti atas), sisipkan kritik atau koreksi utama di tengah (isi daging), lalu tutup kembali dengan dukungan atau solusi positif (roti bawah). Pendekatan ini membuat rekan kerja merasa tetap dihargai meski sedang dikoreksi.
Baca Juga: Film Crocodile Tears Tayang 7 Mei 2026, Drama Psikologis Indonesia yang Mendunia dari TIFF
Berani berbicara secara asertif di awal mungkin akan terasa canggung. Namun, di dunia kerja yang dinamis, kejujuran profesional jauh lebih menyelamatkan karier dan kesehatan mental tim dibandingkan keharmonisan palsu yang berujung pada kehancuran sistem kerja.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani