PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Rencana Pemkab Ponorogo mengurai problem kekeringan di sektor pertanian melalui pembangunan sumur irigasi air tanah dalam (IATD) atau lazim disebut sumur dalam tak berjalan mulus.
Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Dispertahankan Ponorogo Muh. Tamar Mahara mengatakan, seharusnya terdapat 55 titik sumur dalam baru pada tahun ini untuk menanggulangi masalah kekeringan.
Sayangnya, anggaran di-refocusing pertengahan tahun lalu. Hanya menyisakan 27 titik sumur dalam yang tersebar di 12 kecamatan yang jadi langganan kekeringan.
"Setiap kecamatan bervariasi ada yang dapat satu ada yang sampai lima,’’ ungkap Tamar sembari menyebut alokasi anggaran setiap sumur Rp 123 juta.
Titik konsentrasi berada di Dusun Jenggring, Desa Duri, Slahung yang menjadi wilayah kantong kekeringan akut di kabupaten ini.
Sumur IATD dibangun dengan kedalaman 80 meter. Pihaknya menarget sumur mampu mengairi 20 hektare sawah.
Pun diproyeksikan mampu menanggulangi krisis air bersih yang dirasakan warga setempat tiap tahunnya.
"Fungsi utamanya tetap sebagai saluran irigasi. Tapi kalau dimanfaatkan warga yang membutuhkan sebagai sumber air silahkan saja," ungkapnya.
Tamara membeberkan, saat ini terdapat ratusan sumur dalam di Ponorogo. Baik itu yang dibangun Pemkab setempat maupun inisiatif petani.
Sedangkan, tahun depan rencananya ditambah 10 titik sumur IATD.
"Setiap pembangunan sumur dalam menggunakan kajian. Salah satunya, memastikan tidak mengganggu air permukaan yang digunakan warga untuk kebutuhan air minumnya,’’ jelasnya.
Tamar mengklaim sumur dalam membantu petani mendapatkan pengairan sawah di musim kemarau.
Menurutnya, sumur IATD tengah diteliti guna mengukur manfaat dan dampak terhadap tingkat produktivitas padi.
"Yang dulunya kemarau sulit tanam padi sekarang bisa,’’ tutupnya. (gen/kid)
Editor : Budhi Prasetya